Rabu, 27 Juni 2018

Menuju Taman Safari Indonesia Serasa Mudik


Anda ingin berwisata ke Taman Safari Indonesia di Bogor? Jangan sekali-kali mengunjunginya saat libur Idul Fitri kecuali Anda akan terjebak macet seakan-akan Anda sedang mudik, hehe...

*****

               Kami bersembilan plus Mbah Kung dan Mbah Uti berangkat dari Cilincing, Jakarta Utara tepat pukul delapan pagi. Suasana jalanan yang lenggang khas lebaran di Jakarta sangat kami nikmati. Petunjuk jalan di aplikasi pun mengabarkan safar kami ke Puncak Bogor hanya 2 jam sekian menit via tol, masya Allah senangnya. Bismillahi tawakkaltu.

               Tak disangka, sebelum kami keluar dari Gerbang Tol Bogor, antrian mobil mengular. Keheranan kami pun bertambah setelah berhasil melewati gerbang, kami diarahkan petugas ke sebelah kanan padahal arah Puncak adalah sebelah kiri. Tak ingin berspekulasi, suami mendekatkan mobil ke polantas yang sedang bertugas.

Pak suami menyapa, “Pak, kami dari Jawa Timur nie... mau ke Taman Safari. Jadi bingung...” Dengan senyum mengembang, pak polisi yang ramah itu menjelaskan, “Pagi, Pak. Sebelumnya kami mohon maaf, Bapak bisa lihat sendiri antrian di sebelah kiri panjang sekali. Bapak mau ke Taman Safari? Di jalan ini Bapak akan diarahkan ke jalan alternatif.” Oh begitu...

               Jadilah kami melaju ke jalanan yang lebih sempit melewati perumahan warga, berbelak-belok, menanjak-menurun landai dan curam. Bukan berarti mobil kami jadi bebas hambatan karena yang ingin menuju ke Puncak mungkin ribuan. Seperti kami, sebagian mereka juga diarahkan ke jalan ini. Warga sekitar seperti sudah memaklumi. Mereka tak heran jalanan di depan rumah mereka menjadi lebih padat dan bising. Bahkan mereka memanfaatkan fenomena ini untuk berjualan makanan, minuman, mainan, tisu, diaper dan lain-lain. Okelah dengan para pedagang itu. Kadang kami yang sedang dirundung macet ini membutuhkan yang mereka tawarkan.


Jalan alternatif juga maceeet...
Yang membuat kami tidak nyaman adalah banyaknya pemuda yang berdiri di tengah jalan untuk mengatur laju mobil-mobil yang lewat. Tak hanya satu-dua orang tapi banyak dan di sepanjang jalan. Tentu saja mereka menarik pungli. Bukannya apa-apa, kan sudah ada petunjuk arah. Kehadiran mereka justru membuat jalanan semakin macet. Bahkan ada yang jika tidak dikasih rupiah, tangannya menepuk badan mobil tersebut, wah wah wah...

Total 4 jam 40 menit dari Cilincing, akhirnya kami sampai di jalan utama Taman Safari, Alhamdulillah... Kalau ke Jawa sudah sampe Brebes nie hehe...

Sambil ngelurusin kaki di lobi hotel, saya memperhatikan suami yang sedang ceck in. Mengapa lama sekali? Jangan-jangan kamar sudah penuh. Subhanallah, ga bisa membayangkan kalo harus ngebolang dengan kemacetan lagi demi mencari penginapan. Tetiba menyalahkan diri sendiri kenapa sejak awal saya tak berinisiatif book hotel via aplikasi. *mejamkan mata, narik nafas-ngeluarin* Alhamdulillah ‘ala kulli haal... Sabar ya, De... *ngelus-elus perut buncit yang pingin segera direbahin*.

Akhirnya suami datang dengan berita baik. Kami dapat kamar tapi harus menunggu petugas membersihkan karena tamu sebelumnya baru saja ceck out, Alhamdulillah... Saya lihat si mbak resepsionis memajang karton bertuliskan “Full Booked” di meja reservasi. Masya Allah, beruntungnya kami... Alhamdulillah ya Rabb...

Pukul 14 kurang dikit kami masuk hotel. Setelah makan siang dengan rendang bekal dari rumah, bersih-bersih badan, sholat jamak dzuhur-ashar dan istirahat sebentar, sore harinya kami berencana memanfaatkan waktu ke Puncak Cisarua karena esok harinya kami ingin full menikmati Taman Safari.

Pukul 17 mobil kami bergerak dari area parkir. Namun apa daya, qodarullah, petualangan sore itu pun tak bisa kami lanjutkan karena seberapa lama pun kami di sana, mobil tidak bisa keluar sejengkal pun. Mau ke kiri (arah Puncak/Jakarta) atau ke kanan (masuk gerbang Taman Safari), keduanya macet total! Hal ini baru kami ketahui sebabnya setelah bertanya pada petugas parkir bahwa mulai jam lima sore jalan utama di luar sana dibuat satu arah, hanya untuk mobil dari arah Puncak menuju Jakarta. Diatur begitupun jalanan masih macet, apalagi dua arah. Masya Allah, sampai segitunya daya tarik Puncak Bogor...

Sempat kami berpikir merubah jadwal sore ini langsung menuju Taman Safari Malam dengan HTM lebih murah dari jam kunjungan siang. Kabarnya, Safari Malam ini lebih menegangkan karena kita akan berinteraksi dengan hewan-hewan malam. Di zona karnivora, lampu sorot bus shuttle akan dimatikan dan suara mesin dihaluskan. Woo, serasa berjalan di tengah hutan yang mencekam. Tapi kami urung karena tentu beberapa binatang tidak bisa kami lihat seperti Istana Panda yang jadwalnya hanya sampai pkl.17.00.

Akhirnya? Mobil kembali kami parkirkan dan kami kembali ke kamar haha... Tak apalah, kami bisa menikmati sausana hotel, masak-masak pop mi di pantry dan anak-anak bermain bola di teras. Tak berapa lama setelah kami leyeh-leyeh, ada petugas hotel mengantarkan dua kardus dari Forest Cake, gratis. Kardus pertama berisi seloyang banana cake, kardus lainnya berisi lima buah cupcake. Lumayan lah buat cemal-cemil di sore yang dingiiin sambil ngupi.

Oh ya, karena kami menginap di Taman Safari Lodge, lima lembar tiket masuk Taman Safari kami mendapat potongan Rp.50.000/tiket. Selain itu, ada dua tiket makan malam dan empat tiket sarapan. 


Moto sambil ditabrak lari anak-anak, jadilah fotonya ngeblur gini, hihi...

Sofa dan view teras tempat anak-anak main bola.
View luar jendela pantry. Yang di atas itu jalanan menuju pintu gerbang Taman Safari Indonesia.

Ketel dan kompor elektrik di pantry. Meja makannya gak kepoto.


*Yang ini ngeblur jugak. Pake alasan apa lagi ya...?*


[bersambung]