Selasa, 20 Desember 2016

Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
(Draft 9 Agustus 2019 - Dibuang sayang)

Menjalani hari-hari pertamaku sebagai seorang istri adalah kasmaran tiada henti. Memandang mata suami yang sedang menatapku penuh mesra adalah scene favoritku. Apalagi mendengar lisannya memuji sarapan yang kumasak. Ah, pipi ini tak henti-hentinya bersemu. Belum lagi ketika suami mendadak puitis, “Sayang, engkaulah cinta pertama dan terakhirku,” masya Allah, indahnya. Serasa bunga-bunga tulip di Belanda sana hijrah ke dapurku. Tapi tunggu dulu, benarkah aku adalah cinta pertamanya? Sayangnya tidak. Ada wanita lain di sana. Dialah cinta pertama suamiku!
Wanita itu adalah ibunda suamiku alias ibu mertuaku. Wanita yang telah mengandung, melahirkan dan mendidik pria yang kini menjadi imamku. Wanita yang tak kenal lelah meladeni pola tingkah suamiku saat kecil dulu. Dengan ASI-nya, suamiku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Dengan ketelatenannya, suamiku bisa pergi ke sekolah dengan pakaian rapi dan perut kenyang. Pun setelah suami dewasa, wanita inilah yang menjadi teman curhatnya. Beliau adalah wanita yang telah mencurahkan hati, cinta dan perasaannya pada suamiku 21 tahun lamanya. Namun hari ini, putra ‘kecil’nya berada di hadapanku, menggenggam erat tanganku, mencurahkan hati, cinta dan perasaannya hanya untukku.
Bagi beliau, siapakah aku di mata putranya? Aku adalah wanita asing yang baru saja dikenalnya dengan ijab qobul. Namun putranya rela melakukan apa saja demi membuatku bahagia. Aku diajaknya pergi bertamasya, membeli pakaian dan perabot rumah, mengenalkanku pada kolega-koleganya dan merencanakan mimpi-mimpi indah lainnya. 
Bagi beliau, siapakah aku di mata putranya? Aku tak lain hanyalah wanita asing yang baru enam bulan menemaninya. Namun di usia setengah tahun itu pula, putranya memutuskan agar kami meninggalkan rumah ibu. Mandiri, alasan yang kami kemukakan saat itu. Lagi-lagi ibu sangat memakluminya. Bahkan beliau turut sibuk mengemas barang-barang kami. 
Sekilas kulihat mata ibu berkaca-kaca. Duhai Rabbii, entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya. Aku berdoa semoga beliau sehat dan bahagia selalu. Kupeluk beliau erat, sambil kubisikkan lembut di telinganya, “Kami akan berkunjung sesering mungkin, Bu, insya Allah. Senyum ibu mengembang hingga gigi-gigi putihnya kelihatan. Kudengar bibirnya mengucap, “Alhamdulillah... Air yang menggenang itu akhirnya menetes juga di pipi ibu. 
*****
Kini, aku telah menjadi ibu dari ketiga putra dan keempat putriku. Semakin faham lah aku mengapa dulu, saat kami berpamitan pindah dari rumah ibu, beliau menitikkan air mata. Suatu hari nanti, kelak putraku akan membawa wanita asing ke rumahku. Lalu aku, mungkin bukanlah wanita penting lagi di sisinya.
Ia akan memperhatikan istrinya, membawa istrinya itu pergi bertamasya, berbelanja pakaian baru, merencanakan motif keramik di ruang tamu mereka, duhai Rabbi... Maka siapakah aku di mata putraku kelak? 

Di usia senjaku nanti, semoga Allah tetap menyehatkan aku, menguatkanku serta mencukupkan rizkiku agar aku tak merepotkan anak-anak dan keluarga mereka. Aku tak perlu berharap mereka akan membalas jerih payahku merawat mereka puluhan tahun. Kuharap tujuanku hanya ridho dan pahala dari-Nya.

Duhai putri-putriku. Hormatilah kedua mertua kalian sebagaimana kalian menghormati kami. Taatilah suamimu dan janganlah menghalanginya berbakti kepada orang tuanya. Bahkan dukunglah! Dukunglah suamimu mencintai orang tuanya

Jemputlah kebahagiaan kalian, Nak… Umi di sini tetap bangga menjadi umi kalian. Kalian adalah cinta pertama umi dan akan selalu begitu. Walau kalian sudah menikah, walau kalian sudah menjauh...

*****
Hamzah (4 yo) sedang bermain pasir di halaman Villa Pondok Asri Tawangmangu, April 2014

Minggu, 18 Desember 2016

Menulis Adalah Mengukir Sejarah

Menulis Adalah Mengukir Sejarah

Anda pernah dikirimi broadcast hoax? Kalau saya, sering. Biasanya saya akan mengkroscek kebenaran berita tersebut. Lalu saya berusaha menjelaskan faktanya kepada si pengirim. Tapi lama-lama saya jadi capek juga. Terkadang, hoax empat tahun lalu, masiiih saja ada yang ngeshare, please deh.
Apa sebenarnya motif si penulis hoax itu? Di sini lah poinnya. Ketika kegiatan menulis hanya diniatkan agar tulisan menjadi viral, mungkin itu lah yang akan penulis dapat. Tapi yakin deh, itu tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena tidak semua pembaca bisa dibodohi dan semua yang berbau dusta pasti akan tercium juga.
Lalu apa motif saya dalam menulis? Saya menulis karena lima alasan berikut.
1. Menulis itu dianjurkan dalam Islam
Bukan hanya membaca lho, menulis juga dianjurkan dalam Islam. Misalnya kita memengikuti sebuah pelatihan. Saat kita sedang menyimak nara sumber, tentu kita bisa menyerap ilmu tersebut dengan baik. Namun, bagaimana nasib ingatan kita satu bulan ke depan? atau satu tahun lagi? atau setelah bertahun-tahun? Masih ingat kah kita dengan apa yang disampaikan oleh pemateri dalam pelatihan tersebut?
Itulah sebabnya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menuliskan ilmu yang telah didapat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ikatlah ilmu dengan menulisnya.[Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]
Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga berkata,
"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat!Termasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang.Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja."[Diwan Syafi’I hal. 103]
Ini tidak hanya berlaku saat pelatihan saja, tapi juga saat belajar dengan guru di kelas, mendengarkan kajian di majlis ilmu, dan lain-lain. Bahkan saya pernah menamatkan membaca sebuah buku, lalu saya menuliskan isinya dengan bahasa saya sendiri.
Dengan menuliskan kembali ilmu yang telah kita dapat, ini membuktikan bahwa kita benar-benar faham apa yang telah kita baca atau dengar. Bonusnya, kita ‘mengikat’ ilmu tersebut di buku kita, yang sewaktu-waktu bisa kita buka dan pelajari kembali.
2. Menulis adalah obat lupa
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menuliskan segala hal yang bersifat penting. Seperti materi pelatihan, materi kajian, akad dalam bermuamalah, janji pada orang lain, termasuk janji pada diri sendiri juga patut kita tuliskan. Tulisan ini akan menjadi obat mujarab dikala kesibukan mengaburkan ingatan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam menafsirkan surah Al-Alaq,
Lupa ada obatnya yaitu dengan menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surah Al-Alaq. Yaitu “iqra’ (bacalah)” kemudian “’allama bil qolam’ (mengajarkan dengan perantara pena)”. Maksudnya, bacalah dengan hafalan. Jika tidak hafal, bacalah dengan tulisanmu.” [Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin]
3. Menulis adalah berbagi ilmu, pengalaman dan hikmah
Setiap kita memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Yang hobi memasak, bisa menuliskan step by step masakan favoritnya. Yang profesinya dokter bisa membantah hoax kesehatan yang beredar. Yang ahli parenting bisa menuliskan cara mengatasi anak tanrum. Yang jago menulis bisa berbagi tips menulis. Misalnya cara mengatasi writer’s block alias keadaan di mana penulis merasa buntu menuangkan idenya dalam bentuk tulisan.
Semua keahlian itu adalah ilmu yang berharga. Jika kita menuliskannya lalu tulisan kita dibaca oleh banyak orang, tentu manfaatnya akan lebih luas, bukan?
Selain ilmu, pengalaman hidup juga bisa dituliskan. Seperti teman saya yang menuliskan pengalamannya, memberi hadiah untuk wali kelas putrinya. Ternyata di balik niatnya yang tulus itu, ada seseorang yang mengingatkan. Bahwa memberi hadiah sebaiknya bukan hanya untuk wali kelas saja, tapi juga untuk semua guru atau tidak sama sekali. Ini untuk menghindari rasa iri antar guru dan kecenderungan berpihak pada putri teman saya tersebut. Sebaiknya pula, hadiah diberikan saat kelulusan sekolah bukan di tengah semester agar kesannya tidak seperti gratifikasi.
Kisah di atas adalah contoh pengalaman berharga yang bisa memberi tambahan wawasan kepada pembacanya. Bahwa melakukan kebaikan tidak cukup dengan niat baik saja. Kita juga perlu memperhitungkan caranya. Jika teman saya menyimpan kisahnya sendiri, ini akan bermanfaat untuk dirinya saja. Tapi teman saya berbagi dengan tulisannya. Ada hikmah di sana yang bisa dipetik bersama.
4. Menulis itu menabung pahala
Jika dengan membaca tulisan kita, banyak orang terinspirasi, tercerahkan bahkan terpecahkan masalahnya. Sesungguhnya Allah Maha Adil perhitungannya. Allah tentu akan menetapkan ganjaran pahala bagi penulisnya. Tentunya jika niat sang penulis benar-benar ikhlas dan ingin berbagi manfaat. Bukan karena ingin tenar atau berharap tulisannya viral.
Bahkan di saat kita telah tiada, namun tulisan kita masih bisa dibaca, pahala itu akan tetap mengalir, menjadi jariyah bagi penulisnya, insya Allah.
5. Menulis adalah mengukir sejarah
Terkadang saya juga suka menulis kejadian sehari-hari yang lucu, menyenangkan, menyedihkan, atau mendebarkan. Misalnya menuliskan pengalaman melahirkan, repotnya saat anak-anak bergiliran sakit, pengalaman pertama mengantar buah hati ke sekolah, hingga mencurahkan rasa hati ketika si ‘bocah’ tahu-tahu minta menikah (yang terakhir ini belum sie hihi, duh gimana rasanya ya?).
Tiap penggal cerita itu tentu membawa kesan tersendiri di hati saya. Saya tidak ingin melepasnya begitu saja. Saya ingin mengukirnya dengan ‘pena’.
Bagi saya, menulis bagaikan mengukir sejarah. Jika nanti, usia tak lagi muda, saya bisa bernostalgia. Saya bisa membaca kembali kisah hidup saya bersama suami, anak dan cucu saya. Bahkan setelah saya tiada, insya Allah kisah saya akan tetap abadi, kecuali hari kiamat menghampiri.

Jumat, 09 Desember 2016

Puisi Ghibah


Keren itu

Ketika ada teman menjelek-jelekkan si fulan,
lalu hatimu berkata,
“Aku juga tahu tuh kejelekan fulan yang lain.”
Hawa nafsu pun berbisik,
"Seruuu kali ya kita gosipin rame-rame..."
Namun batinmu bergejolak.
Nurani dan nafsu bertengkar hebat.
Akhirnya...
Lisanmu memilih bungkam.
Menyimpan baik-baik aib si fulan.




Kamis, 08 Desember 2016

Puisi Gutasi

Banyak hal tak terduga dalam berkebun.
Terkadang kumenantinya tak kunjung berkecambah.

Tak jarang kubersitegang dengan hama.

Terkadang ia berbuah tak henti-henti.

Menjadi panganan di sisi nasi.
Hijaunya menyeruak lebat.
Penyerbukannya berbuah banyak.

Satu hal...

Yang bila kumelihatnya,
mata ini seakan tak berkedip.
Decak kagum tak bisa kuhenti.

Memandangnya adalah keindahan.

Menggugurkan segala kegundahan.

Dialah g u t a s i.

Deretan titik air di tepi daunku.

Cantik, alami, jernih...

Masya Allah.