Anda ingin berwisata ke Taman Safari Indonesia di Bogor? Jangan
sekali-kali mengunjunginya saat libur Idul Fitri kecuali Anda akan terjebak
macet seakan-akan Anda sedang mudik, hehe...
*****
Kami bersembilan plus Mbah Kung
dan Mbah Uti berangkat dari Cilincing, Jakarta Utara tepat pukul delapan pagi.
Suasana jalanan yang lenggang khas lebaran di Jakarta sangat kami nikmati.
Petunjuk jalan di aplikasi pun mengabarkan safar kami ke Puncak Bogor hanya 2
jam sekian menit via tol, masya Allah senangnya. Bismillahi tawakkaltu.
Tak disangka, sebelum kami keluar
dari Gerbang Tol Bogor, antrian mobil mengular. Keheranan kami pun bertambah
setelah berhasil melewati gerbang, kami diarahkan petugas ke sebelah kanan padahal
arah Puncak adalah sebelah kiri. Tak ingin berspekulasi, suami mendekatkan
mobil ke polantas yang sedang bertugas.
Pak suami menyapa, “Pak, kami dari Jawa Timur nie... mau ke Taman Safari.
Jadi bingung...” Dengan senyum mengembang, pak polisi yang ramah itu
menjelaskan, “Pagi, Pak. Sebelumnya kami mohon maaf, Bapak bisa lihat sendiri
antrian di sebelah kiri panjang sekali. Bapak mau ke Taman Safari? Di jalan ini
Bapak akan diarahkan ke jalan alternatif.” Oh begitu...
Jadilah kami melaju ke jalanan
yang lebih sempit melewati perumahan warga, berbelak-belok, menanjak-menurun
landai dan curam. Bukan berarti mobil kami jadi bebas hambatan karena yang
ingin menuju ke Puncak mungkin ribuan. Seperti kami, sebagian mereka juga
diarahkan ke jalan ini. Warga sekitar seperti sudah memaklumi. Mereka tak heran
jalanan di depan rumah mereka menjadi lebih padat dan bising. Bahkan mereka
memanfaatkan fenomena ini untuk berjualan makanan, minuman, mainan, tisu,
diaper dan lain-lain. Okelah dengan para pedagang itu. Kadang kami yang sedang
dirundung macet ini membutuhkan yang mereka tawarkan.
![]() |
| Jalan alternatif juga maceeet... |
Yang membuat kami tidak nyaman adalah banyaknya pemuda yang berdiri di
tengah jalan untuk mengatur laju mobil-mobil yang lewat. Tak hanya satu-dua
orang tapi banyak dan di sepanjang jalan. Tentu saja mereka menarik pungli.
Bukannya apa-apa, kan sudah ada petunjuk arah. Kehadiran mereka justru membuat
jalanan semakin macet. Bahkan ada yang jika tidak dikasih rupiah, tangannya
menepuk badan mobil tersebut, wah wah wah...
Total 4 jam 40 menit dari Cilincing, akhirnya kami sampai di jalan utama
Taman Safari, Alhamdulillah... Kalau ke Jawa sudah sampe Brebes nie hehe...
Sambil ngelurusin kaki di lobi hotel, saya memperhatikan suami yang
sedang ceck in. Mengapa lama sekali? Jangan-jangan kamar sudah penuh. Subhanallah,
ga bisa membayangkan kalo harus ngebolang dengan kemacetan lagi demi mencari
penginapan. Tetiba menyalahkan diri sendiri kenapa sejak awal saya tak
berinisiatif book hotel via aplikasi. *mejamkan mata, narik nafas-ngeluarin* Alhamdulillah ‘ala kulli haal... Sabar ya, De... *ngelus-elus perut
buncit yang pingin segera direbahin*.
Akhirnya suami datang dengan berita baik. Kami dapat kamar tapi harus menunggu
petugas membersihkan karena tamu sebelumnya baru saja ceck out,
Alhamdulillah... Saya lihat si mbak resepsionis memajang karton bertuliskan
“Full Booked” di meja reservasi. Masya Allah, beruntungnya kami... Alhamdulillah
ya Rabb...
Pukul 14 kurang dikit kami masuk hotel. Setelah makan siang dengan rendang
bekal dari rumah, bersih-bersih badan, sholat jamak dzuhur-ashar dan istirahat
sebentar, sore harinya kami berencana memanfaatkan waktu ke Puncak Cisarua
karena esok harinya kami ingin full menikmati Taman Safari.
Pukul 17 mobil kami bergerak dari area parkir. Namun apa daya, qodarullah,
petualangan sore itu pun tak bisa kami lanjutkan karena seberapa lama pun kami
di sana, mobil tidak bisa keluar sejengkal pun. Mau ke kiri (arah Puncak/Jakarta)
atau ke kanan (masuk gerbang Taman Safari), keduanya macet total! Hal ini baru
kami ketahui sebabnya setelah bertanya pada petugas parkir bahwa mulai jam lima sore jalan utama di
luar sana dibuat satu arah, hanya untuk mobil dari arah Puncak menuju Jakarta. Diatur
begitupun jalanan masih macet, apalagi dua arah. Masya Allah, sampai segitunya daya tarik Puncak Bogor...
Sempat kami berpikir merubah jadwal sore ini langsung menuju Taman
Safari Malam dengan HTM lebih murah dari jam kunjungan siang. Kabarnya, Safari
Malam ini lebih menegangkan karena kita akan berinteraksi dengan hewan-hewan
malam. Di zona karnivora, lampu sorot bus shuttle akan dimatikan dan suara
mesin dihaluskan. Woo, serasa berjalan di tengah hutan yang mencekam. Tapi
kami urung karena tentu beberapa binatang tidak bisa kami lihat seperti Istana
Panda yang jadwalnya hanya sampai pkl.17.00.
Akhirnya? Mobil kembali kami parkirkan dan kami kembali ke kamar haha...
Tak apalah, kami bisa menikmati sausana hotel,
masak-masak pop mi di pantry dan anak-anak bermain bola di teras. Tak berapa lama setelah
kami leyeh-leyeh, ada petugas hotel mengantarkan dua kardus dari Forest Cake,
gratis. Kardus pertama berisi seloyang banana cake, kardus lainnya berisi lima buah
cupcake. Lumayan lah buat cemal-cemil di sore yang dingiiin sambil ngupi.
Oh ya, karena kami menginap di Taman Safari Lodge, lima lembar tiket masuk Taman Safari kami mendapat potongan Rp.50.000/tiket. Selain itu, ada dua tiket makan malam dan empat tiket sarapan.
![]() |
| Moto sambil ditabrak lari anak-anak, jadilah fotonya ngeblur gini, hihi... |
![]() |
| Sofa dan view teras tempat anak-anak main bola. |
![]() |
| View luar jendela pantry. Yang di atas itu jalanan menuju pintu gerbang Taman Safari Indonesia. |
![]() |
| Ketel dan kompor elektrik di pantry. Meja makannya gak kepoto. |
[bersambung]









