![]() |
| interior Masjid Nabawi |
Mahir berbahasa Arab adalah suatu keutamaan tersendiri. Selain bisa lebih mudah memahami dan menghafalkan Al-Quran, saat di tanah Arab, kita juga bisa mudah berkomunikasi dengan penduduk asli di sana. Kita bisa bertanya bila tersesat; kita bisa menawar barang dagangan tanpa kesulitan, dan lain-lain. Lalu bagaimana jika mau berangkat umroh, kita belum bisa bahasa Arab kecuali na’am dan La saja?
Jangan khawatir, kita tidak akan merasa asing di sana. Selain ada pemandu dan teman serombongan yang membuat kita tidak merasa sendirian, di sana jamaah umroh asal Indonesia juga tumpah ruah. Tak heran ketika sedang menuju masjid, kita mendengar sekerumunan orang berbahasa Tegal. Atau kita disapa dengan logat bugis di lift hotel. Atau kita diajak bicara bahasa Sunda di pertokoan. Kata orang, “Tanah Arab rasa Indonesia,” hehe…
Selain bisa dikenali dengan wajah asia dan bahasanya, dari jauh kita bisa mengenali saudara sebangsa kita dari pakaiannya. Biasanya mereka memakai seragam dari penyelenggara perjalanan umroh. Dari yang seragamnya batik kalem sampai polkadot gonjreng lengkap dengan topi pantai dan sun glasses. Yang terakhir ini beneran ada lho!
Saya tak ragu menyapa dan menanyakan daerah asal mereka. Dari beberapa sapaan itu bisa berlanjut obrolan ringan hingga tukar nomor telepon dan alamat. Ada Bu Sulis dari Sidoarjo, Bu Laila dari Condet, Jakarta, Mbak Iin dari Kalimantan dan lain-lain.
![]() |
| Dua menara Masjidil Harom, dilihat dari halaman masjid. |
[Tolong sampaikan saudara dan tetanggamu ya, Nak, ‘Jangan menunda hingga tua kalau mau ke Mekah. Kalau seperti aku, mau jalan kaki jauh, kaki sudah kemeng. Mumpung masih muda, sempatkan datang ke sini agar tidak menyesal.]
See ... Negri orang serasa kampung sendiri!
Sangking banyaknya jamaah Indonesia, pedagang di sana juga bisa sedikit-sedikit lho bahasa kita. Mengerti bahasa pembelinya tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi penjaja dagangan di sana. Selain komunikasi antara penjual dan pembeli jadi lancar, bisnis pun ikut gencar. “Murrah-murrah, baghus-baghus, silakan masuq Ibu. Pakai rubiyah bisa, Lima real saja.”
Askar (penjaga keamanan) wanita di sana terkadang juga menggunakan kosa kata Indonesia seperti “Ibu, ibu… maju! Hajjah, hajjah dhudhuk, ini jalan!” Kalau kita amati, tidak sedikit pekerja di sana yang berasal dari Indonesia. Ada yang bertugas membersihkan lantai dari sampah dan tumpahan air zam-zam. Ada yang khusus merapikan Al-Quran. Ada yang membersihkan area toilet dan lain-lain. Sapalah mereka, obrolan ringan dan hadiah kecil tentu akan membuat mereka bahagia.
Bagi yang ingin belajar bahasa Arab, tentu itu keputusan yang baik. Namun, tak perlu menunggu mahir dahulu jika ingin berangkat umroh. Apalagi percakapan sehari-hari penduduk sana menggunakan bahasa pasaran (amiyah) bukan yang sesuai tata bahasa.
Mempelajari tata cara umroh yang syar’i lebih diutamakan. Membekali diri dengan pengetahuan sejarah nabawiyah saya rasa juga perlu agar kita nyambung ketika muthowwif (travel guide) memamerkan bangunan-bangunan bersejarah di kanan-kiri bus kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar