Minggu, 22 Desember 2019

Genitnya Genilangit Memesona Banyak Wisatawan

Magetan yang terletak di kaki Gunung Lawu memang menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. 

Banyaknya taman wisata siap memanjakan para pengunjungnya. Sebutlah Telaga Sarangan, Kebun Strawberry Sarangan, Telaga Wahyu, The Lawu Park, Mojosemi Forest Park, Mbah Djoe Resort, Magetan Park dan yang terbaru ada Magetan Green Garden, Kebun Refugia (yang grand openingnya baru 26 Oktober 2019 kemarin) dan Genilangit.

Genilangit yang mau saya review ini terletak di Desa Genilangit, Poncol, Magetan. Sama dengan tempat wisata baru lainnya, kita akan menemukan banyak spot foto yang instagramable. Desain taman yang sosmedable kini menjamur ya. Tentu saja karena asas simbiosis mutualisme. Pengunjung puas membawa oleh-oleh foto dengan pemandangan unik. Pengelola wisata juga merasa diuntungkan. Dengan diuploadnya foto tersebut di sosial media oleh pengunjung, secara tidak langsung membuat wisata tersebut berpotensi dikenal banyak orang. Iya kan?
            

Genilangit Murah Meriah


            
Ketika mobil menelusuri jalan masuk menuju Genilangit, terus terang saya sedikit berkecil hati. Jalananya sempit ditambah biaya masuk hanya Rp.5.000 per orang, wah jangan-jangan anak-anak kecewa berlibur ke sini.
            
Dan ternyata...

Jujur, ini di luar ekspektasi. Parkir kendaraan luas, tempatnya sejuk, nyaman dan bersih, tatanannya apik, playgroundnya luas terdiri dari mainan pasir dan outbond. Bila lapar, di sana ada cafe dan pengunjung bisa memilih tempat duduk di gazebo atau di bawah pohon-pohon hutan yang asri banget. 

Untuk sekedar melepas penat dari kesibukan hari-hari, ini cocok banget, Gaes. Anak-anak bisa seru-seruan di playground. Yang remaja bisa eksplore foto-foto pemandangan, yang udah tua ngadem aja dah di gazebo sambil nyeruput kopi pahit, hehe...




Salah satu jalan setapak di Genilangit


Miniatur Menara Eifel dan bangku cafe


Playgound. Yang kefoto cuma ini. Aslinya lebih luas.


Rumah Pohon

Kayaknya ini buat tracking sepeda gantung deh, Tapi kemarin sedang ga beroprasi.

Spot perahu dengan background lembah


Rusak

Spot foto ala di Jepang ceritanya

Ayunan ini ada sabuk pengamannya.

Ayunan bentuk hati

Sayap kupu-kupu

 Walau puas, murah dan meriah, Genilangit ini masih ada minusnya menurut saya. 

Yang pertama, area di dalam Genilangit tidak mendukung stroller. Jalan setapaknya mulus dengan paving tapi pada permukaan naik, hanya disediakan undakan. Tidak ada jalanan menanjak yang bisa dilalui oleh kami yang mendorong kereta bayi. Jadi kami harus mengangkat kereta beberapa kali bila bertemu anak-anak tangga itu. 


Dari Kanan ke kiri itu menaik. Hanya ada jalan lurus dan undakan. Kasian yang bawa stroller.
           
Minus yang kedua, desain toilet dari luar memang terlihat menarik, bahkan anak-anak saya yang sedang memanjat tebing di area playground sempat menghentikan aktifitas mereka, “Umi, liat ada rumah lego! Boleh ke sana?” setelah saya izinkan, tidak beberapa lama mereka kembali sambil ketawa-ketiwi. Ternyata yang mereka sangka sebagai rumah lego itu adalah toilet, hehe. Iya, tampak dari luar dindingnya memang dicat pola kotak warna-warni. Sayangnya, kamar mandi hanya tersedia delapan buah dan tidak dipisahkan untuk pria dan wanita. Saat kami berkunjung sie sepi karena weekday. Ga kebayang kalo weekend dan ramai pengunjung campur pria-wanita.


Bangku cafe dengan background toilet dan gazebo 
'Hilang' Ditelan Kabut

Bila berencana mengunjungi Genilangit, kamu bisa datang sejak pagi sehingga lebih puas mengeksplore berbagai sisi. Selain itu, pukul 16.00 area mulai ditutup karena sudah mulai berkabut dan berpotensi hujan jadi sebaiknya sebelum jam segitu sudah siap-siap turun ke tempat parkir ya.
            
Sebelum kami pulang, terjadilah sebuah insiden. Salah dua anak saya tertinggal di area. Kami baru sadar saat di mobil, si nomor dua dan tiga ga ada. Serentak kami segera keluar lagi. 

Kaget bukan kepalang, padahal tadi sebelum masuk mobil suasana masih terang. Selang empat menitan saja, suasana sudah penuh dengan kabut, subhanallah... Jarak pandang mungkin hanya tiga meter, selebihnya putih. Bagaimana bisa kami mencari si kakak yang izinnya tadi mau foto-foto pemandangan? 


Pukul 16.46 WIB

Pukul 16.50 WIB

Antara cemas dan harap campur aduk, Subhanallah. Apalagi pekerja di sana juga sudah mulai pulang satu per satu. Saya bertanya kepada mbak penjaga cafe yang sedang menyalakan motornya, tapi hanya dijawab sekenanya. Husnudzon saja, mungkin dia terburu-buru khawatir turun hujan. Dibantu mbahkungnya anak-anak dan security, akhirnya si kakak ketemu juga. Ya Allah, Nduuk... Yok piye, kalo sampe malem kamu ga ketemu?

Alhamdulillah 'ala kulli haal

Yak begitulah...

Liburan ga perlu jauh dan mahal, Gaes. Yang penting keluarga ngumpul saling mendukung.
Nikmat Allah mana yang kamu dustakan?



Rabu, 27 Juni 2018

Menuju Taman Safari Indonesia Serasa Mudik


Anda ingin berwisata ke Taman Safari Indonesia di Bogor? Jangan sekali-kali mengunjunginya saat libur Idul Fitri kecuali Anda akan terjebak macet seakan-akan Anda sedang mudik, hehe...

*****

               Kami bersembilan plus Mbah Kung dan Mbah Uti berangkat dari Cilincing, Jakarta Utara tepat pukul delapan pagi. Suasana jalanan yang lenggang khas lebaran di Jakarta sangat kami nikmati. Petunjuk jalan di aplikasi pun mengabarkan safar kami ke Puncak Bogor hanya 2 jam sekian menit via tol, masya Allah senangnya. Bismillahi tawakkaltu.

               Tak disangka, sebelum kami keluar dari Gerbang Tol Bogor, antrian mobil mengular. Keheranan kami pun bertambah setelah berhasil melewati gerbang, kami diarahkan petugas ke sebelah kanan padahal arah Puncak adalah sebelah kiri. Tak ingin berspekulasi, suami mendekatkan mobil ke polantas yang sedang bertugas.

Pak suami menyapa, “Pak, kami dari Jawa Timur nie... mau ke Taman Safari. Jadi bingung...” Dengan senyum mengembang, pak polisi yang ramah itu menjelaskan, “Pagi, Pak. Sebelumnya kami mohon maaf, Bapak bisa lihat sendiri antrian di sebelah kiri panjang sekali. Bapak mau ke Taman Safari? Di jalan ini Bapak akan diarahkan ke jalan alternatif.” Oh begitu...

               Jadilah kami melaju ke jalanan yang lebih sempit melewati perumahan warga, berbelak-belok, menanjak-menurun landai dan curam. Bukan berarti mobil kami jadi bebas hambatan karena yang ingin menuju ke Puncak mungkin ribuan. Seperti kami, sebagian mereka juga diarahkan ke jalan ini. Warga sekitar seperti sudah memaklumi. Mereka tak heran jalanan di depan rumah mereka menjadi lebih padat dan bising. Bahkan mereka memanfaatkan fenomena ini untuk berjualan makanan, minuman, mainan, tisu, diaper dan lain-lain. Okelah dengan para pedagang itu. Kadang kami yang sedang dirundung macet ini membutuhkan yang mereka tawarkan.


Jalan alternatif juga maceeet...
Yang membuat kami tidak nyaman adalah banyaknya pemuda yang berdiri di tengah jalan untuk mengatur laju mobil-mobil yang lewat. Tak hanya satu-dua orang tapi banyak dan di sepanjang jalan. Tentu saja mereka menarik pungli. Bukannya apa-apa, kan sudah ada petunjuk arah. Kehadiran mereka justru membuat jalanan semakin macet. Bahkan ada yang jika tidak dikasih rupiah, tangannya menepuk badan mobil tersebut, wah wah wah...

Total 4 jam 40 menit dari Cilincing, akhirnya kami sampai di jalan utama Taman Safari, Alhamdulillah... Kalau ke Jawa sudah sampe Brebes nie hehe...

Sambil ngelurusin kaki di lobi hotel, saya memperhatikan suami yang sedang ceck in. Mengapa lama sekali? Jangan-jangan kamar sudah penuh. Subhanallah, ga bisa membayangkan kalo harus ngebolang dengan kemacetan lagi demi mencari penginapan. Tetiba menyalahkan diri sendiri kenapa sejak awal saya tak berinisiatif book hotel via aplikasi. *mejamkan mata, narik nafas-ngeluarin* Alhamdulillah ‘ala kulli haal... Sabar ya, De... *ngelus-elus perut buncit yang pingin segera direbahin*.

Akhirnya suami datang dengan berita baik. Kami dapat kamar tapi harus menunggu petugas membersihkan karena tamu sebelumnya baru saja ceck out, Alhamdulillah... Saya lihat si mbak resepsionis memajang karton bertuliskan “Full Booked” di meja reservasi. Masya Allah, beruntungnya kami... Alhamdulillah ya Rabb...

Pukul 14 kurang dikit kami masuk hotel. Setelah makan siang dengan rendang bekal dari rumah, bersih-bersih badan, sholat jamak dzuhur-ashar dan istirahat sebentar, sore harinya kami berencana memanfaatkan waktu ke Puncak Cisarua karena esok harinya kami ingin full menikmati Taman Safari.

Pukul 17 mobil kami bergerak dari area parkir. Namun apa daya, qodarullah, petualangan sore itu pun tak bisa kami lanjutkan karena seberapa lama pun kami di sana, mobil tidak bisa keluar sejengkal pun. Mau ke kiri (arah Puncak/Jakarta) atau ke kanan (masuk gerbang Taman Safari), keduanya macet total! Hal ini baru kami ketahui sebabnya setelah bertanya pada petugas parkir bahwa mulai jam lima sore jalan utama di luar sana dibuat satu arah, hanya untuk mobil dari arah Puncak menuju Jakarta. Diatur begitupun jalanan masih macet, apalagi dua arah. Masya Allah, sampai segitunya daya tarik Puncak Bogor...

Sempat kami berpikir merubah jadwal sore ini langsung menuju Taman Safari Malam dengan HTM lebih murah dari jam kunjungan siang. Kabarnya, Safari Malam ini lebih menegangkan karena kita akan berinteraksi dengan hewan-hewan malam. Di zona karnivora, lampu sorot bus shuttle akan dimatikan dan suara mesin dihaluskan. Woo, serasa berjalan di tengah hutan yang mencekam. Tapi kami urung karena tentu beberapa binatang tidak bisa kami lihat seperti Istana Panda yang jadwalnya hanya sampai pkl.17.00.

Akhirnya? Mobil kembali kami parkirkan dan kami kembali ke kamar haha... Tak apalah, kami bisa menikmati sausana hotel, masak-masak pop mi di pantry dan anak-anak bermain bola di teras. Tak berapa lama setelah kami leyeh-leyeh, ada petugas hotel mengantarkan dua kardus dari Forest Cake, gratis. Kardus pertama berisi seloyang banana cake, kardus lainnya berisi lima buah cupcake. Lumayan lah buat cemal-cemil di sore yang dingiiin sambil ngupi.

Oh ya, karena kami menginap di Taman Safari Lodge, lima lembar tiket masuk Taman Safari kami mendapat potongan Rp.50.000/tiket. Selain itu, ada dua tiket makan malam dan empat tiket sarapan. 


Moto sambil ditabrak lari anak-anak, jadilah fotonya ngeblur gini, hihi...

Sofa dan view teras tempat anak-anak main bola.
View luar jendela pantry. Yang di atas itu jalanan menuju pintu gerbang Taman Safari Indonesia.

Ketel dan kompor elektrik di pantry. Meja makannya gak kepoto.


*Yang ini ngeblur jugak. Pake alasan apa lagi ya...?*


[bersambung]




Sabtu, 14 April 2018

Mau Umroh, Tidak Bisa Bahasa Arab?

   
interior Masjid Nabawi
       

          Mahir berbahasa Arab adalah suatu keutamaan tersendiri. Selain bisa lebih mudah memahami dan menghafalkan Al-Quran, saat di tanah Arab, kita juga bisa mudah berkomunikasi dengan  penduduk asli di sana. Kita bisa bertanya bila tersesat; kita bisa menawar barang dagangan tanpa kesulitan, dan lain-lain. Lalu bagaimana jika mau berangkat umroh, kita belum bisa bahasa Arab kecuali na’am dan La saja?
       

          Jangan khawatir, kita tidak akan merasa asing di sana. Selain ada pemandu dan teman serombongan yang membuat kita tidak merasa sendirian, di sana jamaah umroh asal Indonesia juga tumpah ruah. Tak heran ketika sedang menuju masjid, kita mendengar sekerumunan orang berbahasa Tegal. Atau kita disapa dengan logat bugis di lift hotel. Atau kita diajak bicara bahasa Sunda di pertokoan. Kata orang, “Tanah Arab rasa Indonesia,” hehe…

          Selain bisa dikenali dengan wajah asia dan bahasanya, dari jauh kita bisa mengenali saudara sebangsa kita dari pakaiannya. Biasanya mereka memakai seragam dari penyelenggara perjalanan umroh. Dari yang seragamnya batik kalem sampai polkadot gonjreng lengkap dengan topi pantai dan sun glasses. Yang terakhir ini beneran ada lho!

          Saya tak ragu menyapa dan menanyakan daerah asal mereka. Dari beberapa sapaan itu bisa berlanjut obrolan ringan hingga tukar nomor telepon dan alamat. Ada Bu Sulis dari Sidoarjo, Bu Laila dari Condet, Jakarta, Mbak Iin dari Kalimantan dan lain-lain.

Dua menara Masjidil Harom,
dilihat dari halaman masjid.
          Yang paling berkesan adalah saat berbincang dengan Mbah Yani asal Mojokerto selepas isya di halaman Masjidil Harom. Sambil memijit telapak kakinya lembut, beliau menasihati kira-kira begini “Kandani dulur karo tonggone yo, Nduk, ‘Ojo nunda nganti tuek nek arep ning Mekah. Nek koyok aku, arep mlaku adoh, sikil wis kemeng. Mumpung ijik enom, sempetno neng kene supoyo ora nyesel.'

[Tolong sampaikan saudara dan tetanggamu ya, Nak, ‘Jangan menunda hingga tua kalau mau ke Mekah. Kalau seperti aku, mau jalan kaki jauh, kaki sudah kemeng. Mumpung masih muda, sempatkan datang ke sini agar tidak menyesal.]

See ... Negri orang serasa kampung sendiri!

          Sangking banyaknya jamaah Indonesia, pedagang di sana juga bisa sedikit-sedikit lho bahasa kita. Mengerti bahasa pembelinya tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi penjaja dagangan di sana. Selain komunikasi antara penjual dan pembeli jadi lancar, bisnis pun ikut gencar. “Murrah-murrah, baghus-baghus, silakan masuq Ibu. Pakai rubiyah bisa, Lima real saja.”

          Askar (penjaga keamanan) wanita di sana terkadang juga menggunakan kosa kata Indonesia seperti “Ibu, ibu… maju! Hajjah, hajjah dhudhuk, ini jalan!” Kalau kita amati, tidak sedikit pekerja di sana yang berasal dari Indonesia. Ada yang bertugas membersihkan lantai dari sampah dan tumpahan air zam-zam. Ada yang khusus merapikan Al-Quran. Ada yang membersihkan area toilet dan lain-lain. Sapalah mereka, obrolan ringan dan hadiah kecil tentu akan membuat mereka bahagia.

          Bagi yang ingin belajar bahasa Arab, tentu itu keputusan yang baik. Namun, tak perlu menunggu mahir dahulu jika ingin berangkat umroh. Apalagi percakapan sehari-hari penduduk sana menggunakan bahasa pasaran (amiyah) bukan yang sesuai tata bahasa.

          Mempelajari tata cara umroh yang syar’i lebih diutamakan. Membekali diri dengan pengetahuan sejarah nabawiyah saya rasa juga perlu agar kita nyambung ketika muthowwif (travel guide) memamerkan bangunan-bangunan bersejarah di kanan-kiri bus kita.

Senin, 09 April 2018

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Madiun

***
Satu juta tujuh ratus. Untuk Pak Drajat, satu juta aja deeeh …

Begitulah kiranya jawaban teman bapak saya ketika ditanya perihal biaya pembuatan paspor. Katanya semua biar dia yang urus, bapak saya tinggal santai saja, hehe ...

Apa iya membuat paspor itu ribet dengan biaya hingga jutaan rupiah?

***


Membuat paspor zaman sekarang sudah sangat mudah. Asalkan semua dokumen lengkap dan benar, insya Allah kita tidak akan bolak-balik mengurusnya.

Pengalaman saya saat membuat paspor dulu bukan untuk umroh melainkan berencana ke Timor Leste. Ketika ingin berangkat umroh, saya hanya mengurus penambahan nama orang tua agar nama saya menjadi tiga suku kata.


Persyaratan Dokumen

Dokumen yang dibutuhkan hanya tiga, yaitu:

1.      KTP (Kartu Tanda Penduduk)
2.      KK (Kartu Keluarga)
3.      Akta Kelahiran/Ijazah/Buku Nikah (pilih salah satu)

Dengan catatan:
- Pastikan nama kita di semua dokumen tersebut sama.
- Bawalah dokumen yang asli dan fotocopiannya di kertas A4.
- Jangan lupa bawa materai Rp.6.000 untuk mengisi surat pernyataan (bahwa semua dokumen yang kita lampirkan dan tujuan kita ke luar negri adalah benar adanya).


Dokumen tambahan bagi calon jamaah umroh

Mulai Februari 2018, bila ingin berangkat umroh, pengajuan pembuatan paspor kita harus disertai:

1.      Surat rekomendasi dari Kemenag kota/kabupaten.
2.      Surat keterangan penjaminan bermaterai dari penyelanggara perjalanan umroh

Khusus beberapa orang, tidak perlu membuat dua surat tersebut seperti yang tercantum pada surat edar berikut.

sumber foto di sini
“2. Memerintahkan kepala kantor imigrasi untuk tidak menysaratkan surat rekomendasi dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten/kota dan surat keterangan dari Penyelenggara Perjalanan Ibadah Haji/Umroh terhadap pemohon paspor yang akan menunaikan ibadah haji/umroh yang termasuk dalam kategori berikut:


a. pejabat negara
b. anggota TNI/Polri, pegawai negri sipil
c. tokoh masyarakat
d. orang tua (di atas usia 50 tahun)
e. anak (di bawah usia 12 tahun)”




Proses Pembuatan Paspor

Saya tiba di Kantor Imigrasi, Jl. Panglima Sudirman, RT.011/RW.04, Kaligunting, Madiun, Jawa Timur 63153 pukul sembilan pagi. Di sana,

1.     Saya mengambil nomor antrian;
2.     Sembari mengantri, saya mengisi formulir yang disediakan;
3.     Setelah itu, saya dipanggil petugas untuk pengecekan dokumen dan wawancara;
4.     Kemudian saya masuk ke sebuah ruangan untuk mengantri difoto. 

Saya sempat sholat dzuhur dan makan siang di sela-sela antrian yang puwanjang itu hehe… Teman-teman bisa datang lebih pagi supaya dapat nomor antrian lebih awal. Di beberapa kota, antrian bisa di-book secara daring melalui aplikasi di smartphoneSetelah difoto pukul 13.20, saya diberi selembar kertas berisi sejumlah biaya yang harus saya transfer melalui bank yang ditunjuk.


Biaya Pembuatan Paspor

Bapak saya di Jakarta mengatakan pihak travel umrohnya menawarkan pembuatan paspor dengan biaya Rp.1.800.000. Salah satu keponakannya juga pernah membuat paspor dengan biaya sejuta lebih. Bapak juga bercerita ditawari 'diskon' oleh temannya, “Untuk Pak Drajat satu juta aja deh…” Wow... hehe...

Alhamdulillah Bapak tidak menerima 'bantuan' para calo tersebut. Saya sarankan beliau untuk mengurus paspor sendiri karena persyaratannya tidak rumit dan biayanya hanya Rp.355.000.


Pengambilan Paspor
           
Di Kanim Madiun, paspor bisa langsung diambil tiga hari setelah kita melakukan pembayaran. Di Kanim Kelapa Gading, Jakarta Utara, paspor bapak saya jadi dalam tujuh hari. Mungkin karena permintaan pembuatan paspor di sana lebih banyak.

Untuk mengambil paspor tidak perlu mengantri karena bisa diambil melalui Drive Thru.


Bagaimana, Teman-teman ... Setelah tahu mudahnya mengurus pembuatan paspor, masih mau minta dibuatkan oleh calo?


Senin, 26 Maret 2018

Persiapan sebelum Umroh

Setiap orang mungkin punya persiapan yang berbeda. Ini adalah versi saya.

1. Jangan menunggu tua

Pergilah ke sana selagi muda karena ibadah di sana membutuhkan fisik yang kuat dan sehat. Saya bertemu dengan banyak sekali oma-opa yang kesulitan. Ada yang telapak kaki kanannya harus diseret ketika berjalan. Ada yang butuh waktu seperempat menit untuk menuruni satu anak tangga. Ada yang kakinya bengkak hingga sandal selopnya hanya muat jemari saja, dan masih buaanyak lagi--Masya Allah, barokalahu fihim, semoga Allah melipat gandakan pahala amalan mereka.


2. Pilih jadwal keberangkatan yang cocok dengan jadwal haid kita.

Haidh adalah takdir Allah bagi putri Adam. Ketika kita berada di Mekah dan ternyata tamu bulanan datang, itu adalah bagian dari ketentuan-Nya. Karena kita tidak bisa memilih kapan ‘tamu’ itu datang, ada baiknya kita yang memilih jadwal keberangkatan. Carilah yang sesuai dengan periode menstruasi kita. Paling aman, kita berangkat pasca menstrual period.

3. Punya Paspor dan Buku Kuning (vaksin meningitis)

Akan dibahas pada sub bab berikutnya, insya Allah.


4. Bawa pakaian secukupnya.

Sembilan hari safar, saya hanya membawa tiga setel pakaian hijab dan dua pakaian tidur. Saya juga bawa sabun cuci sachet dan hanger plastik untuk mencuci pakaian. Bisa kering gitu? Bisa, insya Allah! Kalo gak mau nyuci, ya siap-siap bawa pakaian yang banyak dan tambahan tentengan oleh-oleh saat pulang nanti. O iya, jangan lupa bawa jaket bila di sana sedang musim dingin ya!

Akan ada pembahasan sendiri tentang packing koper, insya Allah.


 5. Cek kesehatan ke dokter atau bawa obat yang diperlukan

Saat kita sedang beribadah di sana, semoga masalah kesehatan tidak mengganggu kekhusyu'an kita baik itu batuk, flu, asma, sakit gigi, maag dan lain-lain. Selain obat minum, saya juga sedia obat antiseptik, plester, koyo dan krim untuk pegal-pegal hehe…


6. Mempelajari tata cara umroh yang sesuai tuntunan Rasulullah.

Inilah sejatinya persiapan yang paling penting karena sangat disayangkan bila kita sudah banyak mengeluarkan waktu, harta dan tenaga, ternyata amalan kita tertolak karena tidak sesuai dengan yang Rasulullah contohkan. 

7. Membaca kembali sejarah Rasulullah

Selain kegiatan utama yaitu umroh di baitullah, beberapa hari di dua kota harom tersebut kita akan berziyaroh ke banyak tempat bersejarah. Agar bisa menyelami kisah yang diceritakan oleh muthowwif, ada baiknya kita membaca kisah Rasulullah sebelumnya.


8. Berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan sekaligus menyelesaikan tanggungan bila ada

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »


          Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” 
[HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358]


          Begitu juga bagi orang yang ditinggalkan, sebaiknya mengucapkan.

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah.” 
[HR. Tirmidzi no. 3443]

          Karena sejatinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita dalam perjalanan nanti. Mudah bagi Allah untuk menakdirkan kita tidak kembali sampai kampung halaman lagi, na’udzubillah. Semoga safar kita Allah berkahi sampai kita berkumpul lagi bersama keluarga, Aamiin.

Yang tidak ada tuntunanya adalah “Walimatus Safar”. Sebuah acara yang umum diadakan oleh calon jamaah haji/umroh. Mereka mengundang para tetangga untuk makan-makan dan berdoa berjamaah.

9. Luruskan niat

Sesungguhnya Allah memilih kita untuk datang ke rumah-Nya tidak lain karena anugrah Allah yang Maha Agung. Kita mampu menunaikan ibadah ini karena Allah yang memudahkan segala urusan kita bukan semata-mata karena kesuksesan kita. 

Kita berdoa semoga Allah senantiasa menjaga niat ibadah kita dan menjauhkan diri kita dari ujub dan riya. Aamiin yaa Mujiibud du'aa.

Senin, 20 November 2017

Ndoro Donker: Menyeruput Teh Hangat di Kaki Gunung Lawu

Bila kamu penggemar minuman teh, Ndoro Dongker, Karanganyar bisa dijadikan pilihan wisata kuliner kamu dan keluarga. Suasana yang sejuk dan asri membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Memilih meja in door maupun out door, sama nyamannya. Bayangkan: di cuaca yang dingin, kamu menggenggam sebuah cangkir kecil, menyeruput teh hangat sambil memandangi ‘permadani’ hijau kebun teh. Suatu pengalaman yang menenangkan!


View kebun teh dari atas

Begitu masuk, kamu akan disambut oleh suasana ruangan dominan putih. Ada banyak lemari hias dan rak gantung yang diisi dengan koleksi botol jadul dan bunga imitasi cantik. Perpaduan antara hijaunya tanaman out door dan meja-kursi yang sengaja dicat serba putih menambah kesan bersih, luas dan elegan. 




Sambil menunggu pesanan datang, kamu bisa berlagak jadi petani yang sedang memetiki pucuk daun teh di kebun. Seperti tempat wisata kekinian lainnya, beberapa spot di House of Tea ini sangat menarik dijadikan objek foto. Beberapa kali saya melihat pengunjung berselfie ria atau meminta pramusaji di sana untuk mengambil gambar mereka.


View kebun teh dari samping

 Sebagai penikmat kopi, saya dibuat bingung untuk memilih teh yang ditawarkan pada album menu. Ada super premium white tea, kemuning green tea, donker black tea, mint tea, passion fruit tea, camomile tea, forest tea dan masih banyak lagi. 

             Akhirnya suami memilih dua teko white dan green tea. Rasa tehnya ringan seperti warnanya yang tidak pekat. Tidak ada aroma melati yang biasa jadi campuran pada teh bungkus di warung (Haha, biasa minum teh gop*k). Ada sedikit rasa langu tapi justru di situlah letak keaslian rasa daun teh: pucuk daun yang diiris tipis-dikeringkan-diseduh air panas. 



Super premium white and green tea Rp.40.000/teko.
Bila porsi teko terlalu banyak, kamu bisa memesan porsi cangkir dengan harga Rp.10.000 – Rp.12.000.


Selain teh, kamu juga bisa menikmati makanan ringan seperti singkong keju, pisang bakar, ubi donker, bitterballen dan lain-lain. Bagi kamu yang ingin makan besar, ada beberapa pilihan nasi goreng, aneka olahan ayam, iga sapi, soto, kare, dan lain-lain.

Sebelum pulang, kamu bisa berkunjung ke show room yang menjual sovenir dan aneka teh dengan merk dagang “Ndoro Donker” dan gambar seorang berkebangsaan Belanda berkumis tebal sebagai ikonnya.


Sample jenis teh

Melihat segala kenyamanan di atas, terus terang saya juga membayangkan suasana rest room yang nyaman, putih dan bersih. Ternyata, hmmm.... Dengan interior dan exterior yang begitu royal di area makan, menurut saya area kamar kecil di sana termasuk dianaktirikan. Contohnya, dua kamar mandi harus berbagi satu lampu yang terletak di atas dinding keduanya. Bisa dibayangkan bagaimana redupnya kamar kecil itu padahal di siang hari. Alhamdulillah, walau kecil, masih tersedia mushola.

            Setelah menikmati santapan, tak lupa kami #TumpukDiTengah piring-piring yang telah kami gunakan. Gelas dan sendok juga kami kelompokkan. Sekalian sisa makanan seperti tulang, duri dan tisu bekas kami masukkan ke dalam kresek. Pekerjaan ringan ini tentu akan memberi dampak yang baik bagi pramusaji di sana. Semoga dengan meringankan pekerjaan orang lain, urusan kita akan Allah mudahkan. Aamiin.




Berikut suasana Rumah Teh Ndoro Dongker, 
Jl. Karangpandan-Ngargoyoso, Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
Jumat, 17 November 2017