Minggu, 22 Desember 2019

Genitnya Genilangit Memesona Banyak Wisatawan

Magetan yang terletak di kaki Gunung Lawu memang menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. 

Banyaknya taman wisata siap memanjakan para pengunjungnya. Sebutlah Telaga Sarangan, Kebun Strawberry Sarangan, Telaga Wahyu, The Lawu Park, Mojosemi Forest Park, Mbah Djoe Resort, Magetan Park dan yang terbaru ada Magetan Green Garden, Kebun Refugia (yang grand openingnya baru 26 Oktober 2019 kemarin) dan Genilangit.

Genilangit yang mau saya review ini terletak di Desa Genilangit, Poncol, Magetan. Sama dengan tempat wisata baru lainnya, kita akan menemukan banyak spot foto yang instagramable. Desain taman yang sosmedable kini menjamur ya. Tentu saja karena asas simbiosis mutualisme. Pengunjung puas membawa oleh-oleh foto dengan pemandangan unik. Pengelola wisata juga merasa diuntungkan. Dengan diuploadnya foto tersebut di sosial media oleh pengunjung, secara tidak langsung membuat wisata tersebut berpotensi dikenal banyak orang. Iya kan?
            

Genilangit Murah Meriah


            
Ketika mobil menelusuri jalan masuk menuju Genilangit, terus terang saya sedikit berkecil hati. Jalananya sempit ditambah biaya masuk hanya Rp.5.000 per orang, wah jangan-jangan anak-anak kecewa berlibur ke sini.
            
Dan ternyata...

Jujur, ini di luar ekspektasi. Parkir kendaraan luas, tempatnya sejuk, nyaman dan bersih, tatanannya apik, playgroundnya luas terdiri dari mainan pasir dan outbond. Bila lapar, di sana ada cafe dan pengunjung bisa memilih tempat duduk di gazebo atau di bawah pohon-pohon hutan yang asri banget. 

Untuk sekedar melepas penat dari kesibukan hari-hari, ini cocok banget, Gaes. Anak-anak bisa seru-seruan di playground. Yang remaja bisa eksplore foto-foto pemandangan, yang udah tua ngadem aja dah di gazebo sambil nyeruput kopi pahit, hehe...




Salah satu jalan setapak di Genilangit


Miniatur Menara Eifel dan bangku cafe


Playgound. Yang kefoto cuma ini. Aslinya lebih luas.


Rumah Pohon

Kayaknya ini buat tracking sepeda gantung deh, Tapi kemarin sedang ga beroprasi.

Spot perahu dengan background lembah


Rusak

Spot foto ala di Jepang ceritanya

Ayunan ini ada sabuk pengamannya.

Ayunan bentuk hati

Sayap kupu-kupu

 Walau puas, murah dan meriah, Genilangit ini masih ada minusnya menurut saya. 

Yang pertama, area di dalam Genilangit tidak mendukung stroller. Jalan setapaknya mulus dengan paving tapi pada permukaan naik, hanya disediakan undakan. Tidak ada jalanan menanjak yang bisa dilalui oleh kami yang mendorong kereta bayi. Jadi kami harus mengangkat kereta beberapa kali bila bertemu anak-anak tangga itu. 


Dari Kanan ke kiri itu menaik. Hanya ada jalan lurus dan undakan. Kasian yang bawa stroller.
           
Minus yang kedua, desain toilet dari luar memang terlihat menarik, bahkan anak-anak saya yang sedang memanjat tebing di area playground sempat menghentikan aktifitas mereka, “Umi, liat ada rumah lego! Boleh ke sana?” setelah saya izinkan, tidak beberapa lama mereka kembali sambil ketawa-ketiwi. Ternyata yang mereka sangka sebagai rumah lego itu adalah toilet, hehe. Iya, tampak dari luar dindingnya memang dicat pola kotak warna-warni. Sayangnya, kamar mandi hanya tersedia delapan buah dan tidak dipisahkan untuk pria dan wanita. Saat kami berkunjung sie sepi karena weekday. Ga kebayang kalo weekend dan ramai pengunjung campur pria-wanita.


Bangku cafe dengan background toilet dan gazebo 
'Hilang' Ditelan Kabut

Bila berencana mengunjungi Genilangit, kamu bisa datang sejak pagi sehingga lebih puas mengeksplore berbagai sisi. Selain itu, pukul 16.00 area mulai ditutup karena sudah mulai berkabut dan berpotensi hujan jadi sebaiknya sebelum jam segitu sudah siap-siap turun ke tempat parkir ya.
            
Sebelum kami pulang, terjadilah sebuah insiden. Salah dua anak saya tertinggal di area. Kami baru sadar saat di mobil, si nomor dua dan tiga ga ada. Serentak kami segera keluar lagi. 

Kaget bukan kepalang, padahal tadi sebelum masuk mobil suasana masih terang. Selang empat menitan saja, suasana sudah penuh dengan kabut, subhanallah... Jarak pandang mungkin hanya tiga meter, selebihnya putih. Bagaimana bisa kami mencari si kakak yang izinnya tadi mau foto-foto pemandangan? 


Pukul 16.46 WIB

Pukul 16.50 WIB

Antara cemas dan harap campur aduk, Subhanallah. Apalagi pekerja di sana juga sudah mulai pulang satu per satu. Saya bertanya kepada mbak penjaga cafe yang sedang menyalakan motornya, tapi hanya dijawab sekenanya. Husnudzon saja, mungkin dia terburu-buru khawatir turun hujan. Dibantu mbahkungnya anak-anak dan security, akhirnya si kakak ketemu juga. Ya Allah, Nduuk... Yok piye, kalo sampe malem kamu ga ketemu?

Alhamdulillah 'ala kulli haal

Yak begitulah...

Liburan ga perlu jauh dan mahal, Gaes. Yang penting keluarga ngumpul saling mendukung.
Nikmat Allah mana yang kamu dustakan?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar