Magetan yang terletak
di kaki Gunung Lawu memang menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi.
Banyaknya taman wisata siap memanjakan para pengunjungnya. Sebutlah Telaga
Sarangan, Kebun Strawberry Sarangan, Telaga Wahyu, The Lawu Park, Mojosemi Forest Park, Mbah Djoe Resort, Magetan Park dan yang terbaru ada Magetan Green
Garden, Kebun Refugia (yang grand openingnya baru 26 Oktober 2019 kemarin) dan Genilangit.
Genilangit yang mau
saya review ini terletak di Desa Genilangit, Poncol, Magetan. Sama dengan tempat
wisata baru lainnya, kita akan menemukan banyak spot foto yang instagramable.
Desain taman yang sosmedable kini menjamur ya. Tentu saja karena
asas simbiosis mutualisme. Pengunjung puas membawa oleh-oleh foto dengan
pemandangan unik. Pengelola wisata juga merasa diuntungkan. Dengan
diuploadnya foto tersebut di sosial media oleh pengunjung, secara tidak
langsung membuat wisata tersebut berpotensi dikenal banyak orang. Iya kan?
Ketika mobil menelusuri
jalan masuk menuju Genilangit, terus terang saya sedikit berkecil hati.
Jalananya sempit ditambah biaya masuk hanya Rp.5.000 per orang, wah
jangan-jangan anak-anak kecewa berlibur ke sini.
Dan ternyata...
Jujur, ini di
luar ekspektasi. Parkir kendaraan luas, tempatnya sejuk, nyaman dan bersih, tatanannya
apik, playgroundnya luas terdiri dari mainan pasir dan outbond. Bila lapar, di
sana ada cafe dan pengunjung bisa memilih tempat duduk di gazebo atau di bawah
pohon-pohon hutan yang asri banget.
Untuk sekedar melepas penat dari kesibukan hari-hari, ini cocok banget, Gaes. Anak-anak bisa seru-seruan di playground. Yang remaja bisa eksplore foto-foto pemandangan, yang udah tua ngadem aja dah di gazebo sambil nyeruput kopi pahit, hehe...
 |
| Salah satu jalan setapak di Genilangit |
 |
| Miniatur Menara Eifel dan bangku cafe |
 |
| Playgound. Yang kefoto cuma ini. Aslinya lebih luas. |
 |
| Rumah Pohon |
 |
| Kayaknya ini buat tracking sepeda gantung deh, Tapi kemarin sedang ga beroprasi. |
 |
| Spot perahu dengan background lembah |
 |
| Rusak |
 |
| Spot foto ala di Jepang ceritanya |
 |
| Ayunan ini ada sabuk pengamannya. |
 |
| Ayunan bentuk hati |
 |
| Sayap kupu-kupu |
Walau puas, murah dan meriah, Genilangit ini masih ada minusnya
menurut saya.
Yang pertama, area di dalam Genilangit tidak mendukung stroller. Jalan
setapaknya mulus dengan paving tapi pada permukaan naik, hanya disediakan undakan. Tidak ada jalanan menanjak yang bisa dilalui oleh kami yang mendorong kereta bayi. Jadi kami
harus mengangkat kereta beberapa kali bila bertemu anak-anak tangga itu.
 |
| Dari Kanan ke kiri itu menaik. Hanya ada jalan lurus dan undakan. Kasian yang bawa stroller. |
Minus yang kedua, desain
toilet dari luar memang terlihat menarik, bahkan anak-anak saya yang sedang
memanjat tebing di area playground sempat menghentikan aktifitas mereka, “Umi, liat ada rumah lego! Boleh ke sana?” setelah saya izinkan,
tidak beberapa lama mereka kembali sambil ketawa-ketiwi. Ternyata yang mereka
sangka sebagai rumah lego itu adalah toilet, hehe. Iya, tampak dari luar dindingnya memang dicat
pola kotak warna-warni. Sayangnya, kamar mandi hanya tersedia delapan buah dan
tidak dipisahkan untuk pria dan wanita. Saat kami berkunjung sie sepi karena
weekday. Ga kebayang kalo weekend dan ramai pengunjung campur pria-wanita.
 |
| Bangku cafe dengan background toilet dan gazebo |
'Hilang' Ditelan Kabut
Bila berencana mengunjungi Genilangit, kamu bisa datang sejak pagi sehingga lebih
puas mengeksplore berbagai sisi. Selain itu, pukul 16.00 area mulai
ditutup karena sudah mulai berkabut dan berpotensi hujan jadi sebaiknya
sebelum jam segitu sudah siap-siap turun ke tempat parkir ya.
Sebelum kami pulang, terjadilah sebuah insiden. Salah dua anak saya tertinggal di area. Kami baru sadar saat di mobil, si nomor dua dan tiga ga ada. Serentak kami segera keluar lagi.
Kaget bukan kepalang, padahal tadi sebelum masuk mobil suasana masih terang. Selang empat menitan saja, suasana sudah penuh dengan kabut, subhanallah... Jarak pandang mungkin hanya tiga meter,
selebihnya putih. Bagaimana bisa kami mencari si kakak yang izinnya tadi mau
foto-foto pemandangan?
 |
| Pukul 16.46 WIB |
 |
| Pukul 16.50 WIB |
Antara cemas dan harap campur aduk, Subhanallah. Apalagi
pekerja di sana juga sudah mulai pulang satu per satu. Saya bertanya kepada mbak penjaga cafe yang sedang menyalakan motornya, tapi hanya dijawab sekenanya. Husnudzon saja, mungkin dia terburu-buru khawatir turun hujan. Dibantu mbahkungnya anak-anak dan security,
akhirnya si kakak ketemu juga. Ya Allah, Nduuk... Yok piye, kalo sampe malem kamu ga ketemu?
Alhamdulillah 'ala kulli haal
Yak begitulah...
Liburan ga perlu jauh dan mahal, Gaes. Yang penting keluarga ngumpul saling mendukung.
Nikmat Allah mana yang kamu dustakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar