Sabtu, 14 April 2018

Mau Umroh, Tidak Bisa Bahasa Arab?

   
interior Masjid Nabawi
       

          Mahir berbahasa Arab adalah suatu keutamaan tersendiri. Selain bisa lebih mudah memahami dan menghafalkan Al-Quran, saat di tanah Arab, kita juga bisa mudah berkomunikasi dengan  penduduk asli di sana. Kita bisa bertanya bila tersesat; kita bisa menawar barang dagangan tanpa kesulitan, dan lain-lain. Lalu bagaimana jika mau berangkat umroh, kita belum bisa bahasa Arab kecuali na’am dan La saja?
       

          Jangan khawatir, kita tidak akan merasa asing di sana. Selain ada pemandu dan teman serombongan yang membuat kita tidak merasa sendirian, di sana jamaah umroh asal Indonesia juga tumpah ruah. Tak heran ketika sedang menuju masjid, kita mendengar sekerumunan orang berbahasa Tegal. Atau kita disapa dengan logat bugis di lift hotel. Atau kita diajak bicara bahasa Sunda di pertokoan. Kata orang, “Tanah Arab rasa Indonesia,” hehe…

          Selain bisa dikenali dengan wajah asia dan bahasanya, dari jauh kita bisa mengenali saudara sebangsa kita dari pakaiannya. Biasanya mereka memakai seragam dari penyelenggara perjalanan umroh. Dari yang seragamnya batik kalem sampai polkadot gonjreng lengkap dengan topi pantai dan sun glasses. Yang terakhir ini beneran ada lho!

          Saya tak ragu menyapa dan menanyakan daerah asal mereka. Dari beberapa sapaan itu bisa berlanjut obrolan ringan hingga tukar nomor telepon dan alamat. Ada Bu Sulis dari Sidoarjo, Bu Laila dari Condet, Jakarta, Mbak Iin dari Kalimantan dan lain-lain.

Dua menara Masjidil Harom,
dilihat dari halaman masjid.
          Yang paling berkesan adalah saat berbincang dengan Mbah Yani asal Mojokerto selepas isya di halaman Masjidil Harom. Sambil memijit telapak kakinya lembut, beliau menasihati kira-kira begini “Kandani dulur karo tonggone yo, Nduk, ‘Ojo nunda nganti tuek nek arep ning Mekah. Nek koyok aku, arep mlaku adoh, sikil wis kemeng. Mumpung ijik enom, sempetno neng kene supoyo ora nyesel.'

[Tolong sampaikan saudara dan tetanggamu ya, Nak, ‘Jangan menunda hingga tua kalau mau ke Mekah. Kalau seperti aku, mau jalan kaki jauh, kaki sudah kemeng. Mumpung masih muda, sempatkan datang ke sini agar tidak menyesal.]

See ... Negri orang serasa kampung sendiri!

          Sangking banyaknya jamaah Indonesia, pedagang di sana juga bisa sedikit-sedikit lho bahasa kita. Mengerti bahasa pembelinya tentu saja menjadi keuntungan tersendiri bagi penjaja dagangan di sana. Selain komunikasi antara penjual dan pembeli jadi lancar, bisnis pun ikut gencar. “Murrah-murrah, baghus-baghus, silakan masuq Ibu. Pakai rubiyah bisa, Lima real saja.”

          Askar (penjaga keamanan) wanita di sana terkadang juga menggunakan kosa kata Indonesia seperti “Ibu, ibu… maju! Hajjah, hajjah dhudhuk, ini jalan!” Kalau kita amati, tidak sedikit pekerja di sana yang berasal dari Indonesia. Ada yang bertugas membersihkan lantai dari sampah dan tumpahan air zam-zam. Ada yang khusus merapikan Al-Quran. Ada yang membersihkan area toilet dan lain-lain. Sapalah mereka, obrolan ringan dan hadiah kecil tentu akan membuat mereka bahagia.

          Bagi yang ingin belajar bahasa Arab, tentu itu keputusan yang baik. Namun, tak perlu menunggu mahir dahulu jika ingin berangkat umroh. Apalagi percakapan sehari-hari penduduk sana menggunakan bahasa pasaran (amiyah) bukan yang sesuai tata bahasa.

          Mempelajari tata cara umroh yang syar’i lebih diutamakan. Membekali diri dengan pengetahuan sejarah nabawiyah saya rasa juga perlu agar kita nyambung ketika muthowwif (travel guide) memamerkan bangunan-bangunan bersejarah di kanan-kiri bus kita.

Senin, 09 April 2018

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Madiun

***
Satu juta tujuh ratus. Untuk Pak Drajat, satu juta aja deeeh …

Begitulah kiranya jawaban teman bapak saya ketika ditanya perihal biaya pembuatan paspor. Katanya semua biar dia yang urus, bapak saya tinggal santai saja, hehe ...

Apa iya membuat paspor itu ribet dengan biaya hingga jutaan rupiah?

***


Membuat paspor zaman sekarang sudah sangat mudah. Asalkan semua dokumen lengkap dan benar, insya Allah kita tidak akan bolak-balik mengurusnya.

Pengalaman saya saat membuat paspor dulu bukan untuk umroh melainkan berencana ke Timor Leste. Ketika ingin berangkat umroh, saya hanya mengurus penambahan nama orang tua agar nama saya menjadi tiga suku kata.


Persyaratan Dokumen

Dokumen yang dibutuhkan hanya tiga, yaitu:

1.      KTP (Kartu Tanda Penduduk)
2.      KK (Kartu Keluarga)
3.      Akta Kelahiran/Ijazah/Buku Nikah (pilih salah satu)

Dengan catatan:
- Pastikan nama kita di semua dokumen tersebut sama.
- Bawalah dokumen yang asli dan fotocopiannya di kertas A4.
- Jangan lupa bawa materai Rp.6.000 untuk mengisi surat pernyataan (bahwa semua dokumen yang kita lampirkan dan tujuan kita ke luar negri adalah benar adanya).


Dokumen tambahan bagi calon jamaah umroh

Mulai Februari 2018, bila ingin berangkat umroh, pengajuan pembuatan paspor kita harus disertai:

1.      Surat rekomendasi dari Kemenag kota/kabupaten.
2.      Surat keterangan penjaminan bermaterai dari penyelanggara perjalanan umroh

Khusus beberapa orang, tidak perlu membuat dua surat tersebut seperti yang tercantum pada surat edar berikut.

sumber foto di sini
“2. Memerintahkan kepala kantor imigrasi untuk tidak menysaratkan surat rekomendasi dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten/kota dan surat keterangan dari Penyelenggara Perjalanan Ibadah Haji/Umroh terhadap pemohon paspor yang akan menunaikan ibadah haji/umroh yang termasuk dalam kategori berikut:


a. pejabat negara
b. anggota TNI/Polri, pegawai negri sipil
c. tokoh masyarakat
d. orang tua (di atas usia 50 tahun)
e. anak (di bawah usia 12 tahun)”




Proses Pembuatan Paspor

Saya tiba di Kantor Imigrasi, Jl. Panglima Sudirman, RT.011/RW.04, Kaligunting, Madiun, Jawa Timur 63153 pukul sembilan pagi. Di sana,

1.     Saya mengambil nomor antrian;
2.     Sembari mengantri, saya mengisi formulir yang disediakan;
3.     Setelah itu, saya dipanggil petugas untuk pengecekan dokumen dan wawancara;
4.     Kemudian saya masuk ke sebuah ruangan untuk mengantri difoto. 

Saya sempat sholat dzuhur dan makan siang di sela-sela antrian yang puwanjang itu hehe… Teman-teman bisa datang lebih pagi supaya dapat nomor antrian lebih awal. Di beberapa kota, antrian bisa di-book secara daring melalui aplikasi di smartphoneSetelah difoto pukul 13.20, saya diberi selembar kertas berisi sejumlah biaya yang harus saya transfer melalui bank yang ditunjuk.


Biaya Pembuatan Paspor

Bapak saya di Jakarta mengatakan pihak travel umrohnya menawarkan pembuatan paspor dengan biaya Rp.1.800.000. Salah satu keponakannya juga pernah membuat paspor dengan biaya sejuta lebih. Bapak juga bercerita ditawari 'diskon' oleh temannya, “Untuk Pak Drajat satu juta aja deh…” Wow... hehe...

Alhamdulillah Bapak tidak menerima 'bantuan' para calo tersebut. Saya sarankan beliau untuk mengurus paspor sendiri karena persyaratannya tidak rumit dan biayanya hanya Rp.355.000.


Pengambilan Paspor
           
Di Kanim Madiun, paspor bisa langsung diambil tiga hari setelah kita melakukan pembayaran. Di Kanim Kelapa Gading, Jakarta Utara, paspor bapak saya jadi dalam tujuh hari. Mungkin karena permintaan pembuatan paspor di sana lebih banyak.

Untuk mengambil paspor tidak perlu mengantri karena bisa diambil melalui Drive Thru.


Bagaimana, Teman-teman ... Setelah tahu mudahnya mengurus pembuatan paspor, masih mau minta dibuatkan oleh calo?