Sabtu, 28 Januari 2017

Kelas Menulis Online kok Gratis?

          Kebayang gak sih ada kelas menulis online gratis? Online-nya sih kebayang. Zaman serba digital gitu lho. Jarak bukan lagi sebuah halangan. Tapi zaman sekarang ada yang gratisan? Wow, bisa dihitung pakai angan-angan.

          Beruntung sekali saya dipertemukan dengan komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) di facebook. Dari sana saya masuk ke kelas SNJM (Sekali Nulis Jebol Media). Dan dari teman-teman keren inilah, saya dapat info tentang KMO.

          Yang bikin saya heran, kelas ini kok gratis ya? Saya sempat baca iklannya berkali-kali. Masa iya ada tujuh pertemuan, gratis? Tapi mata saya gak salah baca. Beneran ini kelas gratis! Oklik deh, gak pake lama,  waktu itu saya langsung mendaftar.

          Mungkin Teman-teman ada yang bertanya, “KMO itu apaan sih?”

          KMO Indonesia adalah Komunitas Menulis Online Indonesia yang didirikan oleh Coach Tendi Murti. Beliau dibantu oleh beberapa staf seperti Teh Rina Maruti Widiasari di Divisi Akademi, Teh Ernawati Lilys  di Divisi Media, Kang Ade Kurniawan di Divisi Bisnis dan Teh Shabira Ika di divisi Publising. Desember 2016 kemarin adalah angkatan yang ke delapan. Kalau dijumlah, alumninya mungkin sudah 1000-an. Teman-teman bisa mampir ke www.sarapankata.com bila ingin membaca karya-karya alumni KMO Indonesia.

          Diadakan di grup WhatsApp, kami menimba ilmu tiap Selasa dan Sabtu, pkl. 20.00 - 21.30 WIB . Jadi, bagi peserta yang kuliah atau bekerja pagi harinya tetap bisa mengikuti kelas. Asyik, kan?

          Jangan salah, walaupun peserta tidak dipungut biaya, peserta harus tunduk dengan peraturan yang ada. Salah satunya peserta hanya memiliki tiga ‘nyawa’. Bagi yang melanggar peraturan, misalnya tidak mengisi absensi atau tidak mengumpulkan tugas, 'nyawa'nya akan berkurang. Jika nyawa tersebut habis, peserta akan dikeluarkan dari kelas. Jadi, kelas ini gak main-main.

          Angkatan 8 kemarin, KMO Indonesia menggandeng 400-an peserta. Peserta dipisah menjadi dua grup WhatsApp, A dan B. Saya masuk di grup A. Kalau gak salah, pertemuan pertama grup A berisi 215 peserta. Nah, di pertemuan ketujuh, tersisa berapa, coba? 66 peserta! Hohoho… Ada yang dikeluarkan karena ‘nyawa’nya habis. Ada juga yang leave grup alias peserta mengundurkan dirinya sendiri.

          Oya, sebenarnya saya sempat khawatir. Dengan jumlah peserta yang banyak dan diadakan di grup WhatsApp, apa iya kelas bisa efektif? Sebelumnya, saya pernah juga mengikuti kelas serupa. Padahal hanya 20-an orang, tapi suasana riuh di kelas kurang bisa terkontrol. Bagaimana dengan kelas ini ya? 

          Pertanyaan saya terjawab ketika kami dipecah lagi menjadi grup-grup kecil yang dibimbing oleh seorang PJ (Penanggung Jawab) dari tim KMO Indonesia. Di grup inilah kami mengisi absensi, mengumpulkan tugas, bincang-bincang seputar dunia menulis dan lain-lain. Dengan kata lain, di grup kecil ini lebih bebas sehingga keakraban antar peserta pun bisa terjalin.

          Sedangkan grup besar berfungsi sebagai ruang pertemuan peserta dengan nara sumber. Ketika pemateri sedang bicara, peserta dilarang berkomentar. Biasanya pemateri akan memberi waktu pada peserta untuk bicara atau menjawab pertanyaan yang diberikan. Jadi kelasnya juga hidup, gak berjalan satu arah saja. Bila waktu bicara peserta telah habis, makcep, suasana kelas kembali sunyi lantaran semuanya menyimak kembali materi yang dilanjutkan.

          Saya bersyukur bisa mengikuti kelas menulis online dari KMO Indonesia. Saya mendapat banyak teman dan ilmu baru dari kelas ini. Hormat yang tulus serta terima kasih tak terkira, saya haturkan kepada tim KMO Indonesia. Semoga tenaga, waktu dan pikiran yang telah dicurahkan akan berbuah barokah. Dan semoga jariyah ilmu tim KMO Indonesia akan memperberat timbangan amal kebaikan di Masa Perhitungan kelak. Aamiin…

          Sukses selalu KMO Indonesia!


[Bersambung ke “Kelas Online Paling Berkesan -- Pertemuan Pertama KMO”]



Jumat, 27 Januari 2017

Aku Milik Suamiku dan Suamiku Milik Ibunya

       
          “Aku juga telah banyak berkorban, Is… Aku ‘meninggalkan’ orang tua dan adik-adikku demi apa? Demi berbakti pada suamiku! Tapi apa yang kudapatkan? Suamiku lebih memihak ibunya!” suara sahabatku terdengar serak di telepon. Ia berharap menemukan solusi dengan menghubungiku.
          Aku bisa memahami apa yang ia rasakan. Seorang anak perempuan memang tanggung jawab orang tuanya. Tapi begitu menikah, ia akan menjadi tanggung jawab suami sepenuhnya. Beda dengan lelaki. Walau sudah menikah, ia tetap harus menyantuni ibunya.

          “Wah, gak adil dong?”
          Tenang dulu, wahai para istri… Ketahuilah bahwa yang kamu rasakan itu adalah cemburu.
          “Gak boleh kalo gue cemburu?”
          Boleh… Rasa cemburu hadir tentu karena ada rasa cinta. Justru cinta akan dipertanyakan bila tidak ada rasa cemburu sama sekali. Dan cemburu adalah hal yang fitrah bagi wanita. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai menjaganya agar bersih dari campur tangan syaithon.
          Nah, agar hubungan kita dengan ibu mertua tidak ada cemburu, ingatlah dua fakta berikut.
1. Siapakah ibu mertua?
          Beliau adalah wanita yang telah banyak berkorban untuk suami kita puluhan tahun.
          Bagaimanapun perangai ibu mertua kita, beliau adalah wanita yang telah mengandung suami kita 9 bulan lamanya. Berat dan payah tentu telah beliau jalani. Dengan ASI-nya, anak lelakinya tumbuh sehat, kuat dan menjadi suami kita yang cerdas. Dengan kasih sayangnya, anaknya tumbuh menjadi pria dan suami yang penyayang. Dengan kesabarannya pula, ibu telah mendidik putranya hingga ia menjadi suami yang gagah dan penuh tanggung jawab.

2. Lalu siapakah kita?
          Kita adalah wanita asing yang baru dikenalnya dengan ijab qobul. Kita datang menggantikan peran ibu dalam merawat anaknya. Lebih dari itu, kita mengisi hati suami dengan cinta hingga anak lelakinya itu mencintai kita sepenuhnya. memerhatikan kita, mencurahkan hartanya untuk kita dan lain-lain.
          Dua puluhan tahun ibu menyayangi anak lelakinya. Tapi kini, anak lelakinya memandangimu penuh mesra dan mencintaimu penuh kasih, duhai Wanita asing.
          Maka, siapa yang lebih berhak cemburu? Kita atau ibu mertua?

Lalu bagaimana agar hubungan kita dan ibu mertua langgeng bahagia?
1. Dukunglah suami dalam berbakti pada orangtuanya
          Ingatkan suami bila sudah waktunya menelepon atau menjenguk ibu. Sarankan pada suami untuk memberikan ibu hadiah. Bila suami mendapat kabar gembira, biasanya ia akan mengabari pertama kali pada istrinya. Mintalah pada suami agar mengabarkannya pula pada ibu. Sekedar agar ibu ikut berbahagia bahwa anaknya sukses.

2. Posisikan kita sebagai anak kandungnya 
          Seperti kita tengah menyayangi ibu kandung kita, tak perlulah kita bersaing dengannya. Bahkan ciptakan kekompakan bersama beliau. Misalnya melakukan beberapa kegiatan bersama seperti berbelanja, memasak, bebersih rumah atau kebun dan lain-lain. Semakin bersama, biasanya semakin akrab.
          Ingatlah bahwa orang tua suami adalah orang tuamu juga. Jika kamu bersikap demikian, suami yg baik pasti juga akan mendukungmu berbakti pada orang tuamu.

3. Jangan minta suami untuk memilih, “Aku atau ibumu?”
          Oh no, jangan! Seburuk apapun ibu mertua, kamu lebih buruk bila meminta suami untuk berpisah dengan beliau.
          Ketahuilah… Sesungguhnya yang dilakukan suamimu dalam mencintai ibunya adalah hal paling romantis yang dilakukan seorang anak.
          Bayangkan jika anak lelakimu kelak meniru ayahnya. Walau sudah beristri, anak lelakimu masih memberikanmu bunga, memberikan perhatian dan cintanya padamu. Betapa tersanjungnya dirimu, bukan?
          Bayangkan pula sebaliknya. Bagaimana jika menantu perempuanmu membujuk anak lelakimu utk meninggalkanmu. Bagaikan jatuh dari lantai delapan. Rasanya pasti sangat menyakitkan.

          Bagi para suami, pandai-pandailah menjaga hati dua wanitamu. Jangan sampai kecintaanmu pada salah satunya terlalu menonjol di mata yang lainnya. Ibumu berhak mendapat cintamu. Tapi istrimu… Ia telah ‘meninggalkan’ keluarganya demi berbakti dan taat padamu. Jaga ia. Jagalah ia sepenuh jiwa dan raga!
          “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)
          Adh-Dhahhak rahimahullhu berkata menafsirkan ayat di atas, “Apabila para istri menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menaati suami-suami mereka, maka wajib bagi suami untuk membaguskan pergaulannya dengan istrinya, menahan dari menyakiti istrinya, dan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/Tafsir Ath-Thabari, 2/466)


[rewrite from my writing in http://www.sarapankata.com/aku-milik-suamiku-dan-suamiku-milik-ibunya]

Apa Iya Sibling Rivalry Ada Manfaatnya?

          Walau sudah diupayakan agar sibling rivalry minim terjadi, ia laksana bawang merah dan putih di masakan Ibu. Ia bisa hadir kapan saja mewarnai persaudaraan anak-anak. 
          Namun, tidak selamanya sibling rivalry itu negatif lho, Bu. Dengan sedikit kesabaran, kita bisa mengakali persaingan ini menjadi positif. 
Apa iya sibling rivalry ada manfaatnya? Ada!

Tiga manfaat sibling rivalry:
1. Melatih anak untuk mengelola emosinya
          Ketika kakak melihat Ibu punya banyak waktu untuk adik bayi, kakak berontak. Segala benda yang ada di dekatnya, kakak acak-acak. Tapi Ibu adalah orang tua yang bijak. Ibu tidak lantas membentak. Ibu mendekat dan bicara lembut padanya. Bahwa semua orang pada awalnya adalah bayi, termasuk kakak. Bayi belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Beda dengan kakak yang sudah mahir banyak hal.
          Saat anak mulai mencerna nasihat ibu, lalu ia meredakan tantrumnya, kemudian ia manjadi anak yang manis; ini adalah sebuah proses yang tidak mudah bagi anak lho, Bu. Berikan apresiasi jika anak berhasil melewatinya.
          Anak yang terbisa mengelola emosinya sejak dini, ia akan memiliki kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotient) yang baik. Ketika anak ‘naik kelas’ bergaul dengan teman-temannya, ia akan menjadi pribadi yang disukai banyak teman.

2. Melatih anak agar belajar dari keberhasilan saudaranya
          Anak harus tahu faktanya, bahwa kesuksesan tidaklah datang begitu saja. Keberhasilan ada karena usaha yang nyata.
          Ketika kakak menggondol piala olimpiade matematika dan adik belum berhasil, kita bisa katakan pada adik bahwa kakak memang giat berusaha. Kakak menyisihkan waktu bermainnya untuk belajar sebelum olimpiade. Kakak sungguh- sungguh berlatih dan rajib berdoa.
          Bagaimana dengan usaha adik? Latih anak untuk mengevaluasi usahanya sendiri.

3. Melatih anak untuk jujur dan berbesar hati mengakui kesalahan
          Jika ujung-ujungnya terjadi perseteruan lalu keduanya mengatakan dua hal yang bertolak belakang, tentu salah satunya ada yang jujur dan yang lain berkata dusta. Momen ini bisa kita jadikan materi pembelajaran bagi anak-anak. Bahwa dusta hanya akan memberikan kesenangan sesaat. Suatu saat jujurlah yang akan menang.
          Apresiasi lagi bila anak mengakui kesalahannya. Katakan bahwa Ibu bangga dengan kebesaran hatinya. Sungguh tidak semua orang berani mengakui perbuatannya yang salah.

          Oleh karena itu, agar manfaat sibling rivalry ini bisa tercapai, orang tua harus menjadi fasilitator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Orang tua tidak perlu langsung bereaksi. Campur tangan dibutuhkan saat terdapat tanda-tanda akan terjadi kekerasan, baik fisik maupun verbal.
2. Contohkan pada anak bahwa emosi bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan kesepakatan. Marah dan memukul hanya memenangkan kelelahan.
3. Biasakan pada anak agar saling terbuka pada saudaranya, jujur dan tidak memendam sesuatu.
Jika tidak ada yang disukai dari saudaranya, lebih baik disampaikan dengan cara yang baik. Jangan diam saja, tahu-tahu balas dendam. “Wong Kakak juga begitu,” alasan adik. Padahal kakak tidak tahu kalau perbuatannya selama ini tidak disukai adiknya. Misalnya kakak suka buka-buka tas adik tanpa izin untuk meminjam penghapus.
4. Ibu bisa gali potensi anak melalui kegemarannya. Karena jika anak mahir di suatu bidang, otomatis rasa percaya dirinya akan muncul dan anak akan mampu bersaing dengan sehat, insya Allah.
          Jadi, apakah cemburu antar saudara selalu buruk? Selama kita bisa cerdas mensiasati kondisi persaingan tersebut, sibling rivalry bukanlah masalah.


[rewrite from my writing in http://www.sarapankata.com/sibling-rivalry-ada-manfaatnya]

Meminimalkan Sibling Rivalry



          Sibling rivalry, apapun penyebabnya sangatlah wajar terjadi. Nah, bagaimana cara meminimalkan sibling rivalry di antara saudara? Yang ada bukan persaingan, melainkan kerja sama dan kekompakan. Yuk, simak tips berikut ini.
  1. Kenalkan kakak dengan calon adik bayi
          Mengenalkan kakak dengan calon adik akan membuat kakak lebih bisa menerima kehadiran adik bayi. Buatlah kondisi agar kakak antusias menanti kehadiran adiknya. Biarkan kakak mengusap-usap perut ibu dan mengajak bicara calon adiknya itu.
          Sambil menanti hari kelahiran, ajarkan pada kakak untuk mengucapkan kalimat afirmatif. Seperti, “Adik bayi yang pintar, kapan adik mau ketemu kakak? Kakak sudah gak sabar nie ingin ketemu kamu. Cepet lahir ya!” Dengan begitu, kehadiran adik tidak lagi menjadi ancaman bagi kakak. Bahkan menjadi hadiah yang ia tunggu-tunggu.

  1. Setelah adik lahir, libatkan kakak dalam aktivitas merawat adiknya
          Ibu, janganlah asyik sendiri dengan kegiatan merawat bayi! Agar kakak tidak merasa diacuhkan, ajaklah kakak menikmati bahagianya memiliki adik. Misalnya, Ibu bisa berkata “Masya Allah, Kakak sudah wangi ya. Sekarang giliran kita mandikan adik bayi, yuk!” Persilakan tangan kakak mengusap tubuh bayi dengan sabun. Begitu juga dengan memakaikan popok atau pakaian bayi. Intinya, jangan acuhkan kakak, tapi libatkan. Melibatkan beda dengan menyuruh ya, Bu.
          Kegiatan ini bisa dilakukan sambil bicara banyak hal. Ibu bisa memuji kakak yang sayang adik. Ibu mencoba menggoda adik dan meminta kakak melakukannya juga. Ketika adik tertawa, Ibu dan kakak ikut tertawa.
          Dengan begitu, Ibu sudah melakukan banyak hal. Merawat bayi: iya. Mengisi waktu bersama kakak: dapat. Bonusnya, ibu telah menciptakan bonding atau kedekatan antara ibu-kakak  dan antara kakak-adik.

  1. Tanamkan pada anak bahwa tiap orang punya kelebihan dan kekurangan . 
          Adik memang tidak semahir kakak dalam mengerjakan soal matematika. Tapi hasil gambar kakak juga tidak sebagus gambaran adik. Itulah, setiap orang memang punya kekurangan, tapi pasti ada kelebihan yang ia miliki. Dan kelebihan itu bukanlah yang membuat orang itu mulia. Yang memuliakan seseorang adalah takwanya.
Ø¥ِÙ†َّ Ø£َÙƒْرَÙ…َÙƒُÙ…ْ عِÙ†ْدَ اللَّÙ‡ِ Ø£َتْÙ‚َاكُÙ…ْ
          Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertawa di antara kamu.” (Al Hujurot: 13)
          Orang yang bertakwa adalah orang yang mengharap ridho dan pahala Allah sehingga ia selalu menyegerakan kebaikan. Misalnya istiqomah sholat di awal waktu, berbakti pada orang tua, berkata dan berbuat baik pada saudara, teman dan tetangga, dan lain-lain. Orang bertakwa juga takut akan adzab Allah sehingga selalu mejauhkan larangan-Nya. Seperti berdusta, berbuat curang, menyakiti saudara dan lain-lain.

  1. Ajarkan pada anak bahwa “Hasil itu sebanding lurus dengan usaha”
          Seperti kisah Habil dan Qobil putra Nabi Adam. Mengapa qurban Qobil tidak diterima oleh Allah? Karena Allah hanya menerima qurban orang yang bertakwa.
          Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’ “ (Al Maidah: 28)
          Dikisahkan, qurban yang dipersembahkan Qobil adalah qurban yang jelek. Tidak seperti qurban Habil yang terbaik dari yang ia miliki. Lihatlah, jika kita berusaha yang terbaik, kita akan mendapatkan yang terbaik pula, insya Allah.

  1. Biasakan anak untuk mengevaluasi diri
          Jika Qobil mau mengevaluasi diri, seharusnya ia bisa legowo mengapa qurbannya tidak diterima Allah. Ia bisa belajar mengapa qurba milik Habil yang di terima.
          Jika anak mengalami kegagalan, misal nilai ujiannya jelek. Janganlah Ibu mencelanya atau mencela gurunya. Ajari anak untuk mengevaluasi usahanya. Mungkinkah  kemarin ia lebih banyak santai dan tidak giat belajar? Atau anak sudah merasa giat belajar tapi teman-teman di kelas lebih giat lagi.
          Evaluasi ini dilakukan agar anak tak mudah menyalahkan orang lain. Ini juga diharapkan agar anak tidak melakukan kegagalan yang sama di lain waktu.

  1. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.
          Kisah Nabi Yakub yang menganak-emaskan Yusuf dibanding anak-anaknya yang lain adalah pelajaran berharga buat kita. Janganlah sekali-kali menonjolkan rasa sayang berlebih pada salah satu anak saja. Tapi sayangilah mereka dengan cinta yang khusus dan istimewa.
          Misalnya saat adik bayi tidur, Ibu bisa bermain dengan kakak. Ketika Ibu sedang sibuk dengan adik, Ibu bisa meminta ayah/nenek/saudara lainnya untuk menemani kakak bermain.
          Ibu juga bisa meminta ayah untuk memperhatikan kakak. Misalnya saat ayah pulang kerja, sapalah kakak terlebih dahulu baru adiknya. Atau ketika tamu-tamu datang menjenguk bayi, mintalah mereka juga menyapa kakak.

  1. Jangan membanding-bandingkan anak.
          Hindari perkataan, “Soal begini aja gak bisa. Lihat adikmu, nilainya 100 semua!” Ucapan semisal itu tidak akan memotivasi anak. Justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.
          Tapi ucapkanlah kalimat positif, “Adik pandai menggambar. Kakak mahir matematika. Ibu bangga sama kalian berdua.”

  1. Libatkanlah anak dalam menentukan tugasnya sendiri serta konsekuensinya bila ia melanggar.
          Jika anak-anak ingin memiliki tugas di rumah, libatkanlah mereka dalam menentukan apa saja kewajiban yang harus mereka kerjakan. Termasuk menentukan konsekuensi apabila mereka melanggar.
          Sehingga, ke depannya tidak ada yang merasa dicurangi karena semuanya sudah disepakati bersama.

          Nah Ibu, pengertian, penyebab dan cara meminimalkan sibling rivalry sudah kita bahas tuntas. Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa Allah menghadirkan rasa cemburu di antara saudara?
          Hmm… Sibling rivalry ini pasti ada hikmahnya. Mau tahu apa hikmah di balik sibling livalry? Let's go to the next article "Sibling Rivalry Ada Manfaatnya?"


[rewrite from my writing in http://www.sarapankata.com/meminimalkan-sibling-rivalry]

Penyebab Sibling Rivalry

          

          Setelah jelas apa itu sibling rivalry di sinisekarang kita akan mengenali sebab-sebab terjadinya.


          Apa saja sih yang membuat anak merasa harus bersaing dengan saudaranya sendiri? Berikut ulasannya.


1. Punya Adik Baru
     Inilah yang sering terjadi. Kakak sudah terbiasa menjadi satu-satunya pusat perhatian di rumah. Bila kakak melucu, orang rumah akan tertawa gemes. Bila kakak terjatuh, orang rumah akan take care padanya, dan semisalnya.
          Tiba-tiba hadir bayi kecil, menciptakan suasana aneh menurutnya. Perhatian ibu dan ayah kini tak lagi sepenuhnya milik kakak. Bahkan tamu-tamu yang datang sangat antusias dan ramah dengan makhluk kecil itu.
          Diam-diam, si kakak memperhatikan cara adik bayi yang berhasil mengambil perhatian semua orang. Lalu ia mencoba mempraktikannya.
          Kakak mulai menangis tak jelas alasan. Tapi bukan senyuman ibu-ayah yang ia dapatkan, ia malah terkena bentakan. Ada apa ini? Batinnya mulai bertanya-tanya. Padahal aku dan adik melakukan hal yang sama. Apa aku kurang gerakan seperti tangan dan kaki adik yang menendang-nendang itu? Akhirnya di lain kesempatan, si kakak akan menaikkan tingkat tantrumnya dari menangis merintih-rintih menjadi menangis meronta-ronta.
Untuk apa semua ini dilakukan si kakak? Ya, jelas untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.

2. Merasa tidak diperlakukan dengan adil
          Misalnya seorang anak diberi tugas lebih sulit daripada saudara lainnya. Atau jika diberi hadiah, ia merasa pemberian itu lebih jelek atau sedikit dari hadiah lainnya. Atau jika memang anak-anak dihukum, hukuman yang ia terima lebih berat dari yang lainnya. Atau waktu yang ibu curahkan untuk adik bayi lebih lama. Ibu selalu tersenyum pada adik bayi, tapi selalu marah pada kakak.Hal ini tentu akan menimbulkan gesekan kecemburuan.

3. Selalu dibanding-bandingkan dengan saudaranya
          “Wah, adiknya lebih putih dan tinggi ya.”
          “Kamu kok ga seperti kakakmu yang pinter matematika sih?”
          “Lihat tuh adikmu, nilainya 100 semua!”
          “Bandel kamu ya! Gak kayak adik. Udah pintar, menurut lagi.”
          Hati-hati ya, Ibu dan Ayah! Alih-alih kita ingin memotivasi anak dengan membandingkan dengan saudaranya, anak justru semakin ciut nyalinya plus membenci saudara yang dipuji itu. 

4. Masalah yang tidak diselesaikan dengan tuntas
          Terkadang orang tua tidak menyadari bahwa perselisihan yang anak-anak hadapi butuh penyelesaian. Orang tua cenderung menganggapnya hal yang wajar sehingga dendam itu terbawa hingga dewasa.

5. Tidak memiliki waktu untuk berbagi dan berkumpul bersama keluarga
          Orang tua terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri hingga tak ada waktu untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah anak. Ketika anak ingin berbagi kebahagiaan atau kesedihan yang ia alami di sekolah, ibu atau ayah selalu bilang,
“Sebentar ya, Nak.”
“Nanti ya, Nduk.”
“Ibu masih sibuk.”
“Kamu lihat gak, ayah sedang apa?!”
          Secara alami, anak tidak bisa menyalurkan emosinya pada orang tuanya. Tapi ia akan mudah menampakkan amarahnya pada anak yang lebih kecil darinya. Maka adiklah yang jadi pelampiasan kemarahan kakak.

6. Ingin diakui eksistensinya
          Jangan salah, anak juga butuh diakui keberadaannya lho. Sehingga ketika orang tua tidak lagi memperhatikannya, anak akan melakukan sesuatu untuk menunjukkan eksistensinya.
          Misalnya, ketika ibu terlalu sibuk dengan bayi, kakak sengaja menumpahkan sesuatu di dapur atau mengeluarkan isi lemari atau mencabut tanaman dari potnya di halaman dan lain-lain.
          Tujuannya apa? Sebenarnya kakak hanya ingin bilang ke ibu, bahwa aku ada. Dan aku ingin ibu mendatangiku seperti ibu yang selalu mendatangi adik bayi.

          Dari enam penyebab sibling rivalry  di atas, manakah yang lebih mendominasi anak-anak? Nah, dengan memahami penyebabnya, kita bisa menangani persaingan tersebut dengan tepat, insya Allah. 

[rewrite from my writing in http://www.sarapankata.com/penyebab-sibling-rivalry]
Baca selanjutnya: Meminimalkan Sibling Rivalry

Apa itu Sibling Rivalry?

          Ada yang hobi tantrum kah di rumah?  Atau anak-anak pernah mengalami pertengkaran hebat? Bahkan ada yang berdusta untuk memfitnah saudaranya? Wah, jangan sepelekan hal ini ya, Bu! Bisa jadi ini adalah sibling rivalry.





         

          Menurut Dr. Sawitri, sibling rivalry adalah persaingan antara dua saudara dalam memperebutkan kasih sayang dan perhatian orang tuanya.
          Sibling rivalry bukanlah perkara baru. Hal ini juga pernah terjadi pada putra-putra nabi.Ingat kah Anda kisah Habil dan Qobil putra Nabi Adam? Ketika keduanya berqurban, dikabarkan bahwa qurban yang diterima hanya lah milik Habil. Hati Qobil yang sempit tak punya ruang untuk introspeksi diri. Hatinya terlanjur penuh dengan rasa dengki. Akhirnya, Qobil membunuh Habil.
          Ada juga kisah kesebelas saudara Nabi Yusuf. Lantaran sang ayah menganak-emaskan Yusuf kecil, saudara-saudara yusuf bersekongkol membuat makar. Mereka sengaja mencelakakan Yusuf karena kedengkian telah menguasai mereka.
          Subhanallah, sampai segitunya ya…. Kecemburuan antar saudara bisa mencelakakan bahkan membunuh saudara sendiri. Dua kisah di atas tentu bukanlah kisah yang patut diteladani. Allah subhanahu wata’ala menghadirkan cerita tersebut dalam firman-Nya, tentu agar kita bisa mengambil hikmah di dalamnya.
            “Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya.” (Al-Maidah: 27)
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” (Yusuf: 111)
          Begitu pula banyak contoh nyata yang terjadi di sekeliling kita. Kecemburuan itu berbuah pertengkaran yang menyakiti, baik fisik maupun verbal. Pertengkaran itu bahkan berlangsung hingga mereka dewasa dan tua.
          Banyaknya kisah seperti di atas seharusnya membuka mata kita sebagai orang tua. Jangan lah terlalu sibuk dengan pekerjaan yang kita anggap penting. Hingga kita tidak menyadari bahwa di antara anak-anak kita telah terjadi gesekan-gesekan kecil maupun besar. Salah satunya adalah rasa iri atau cemburu.
          Karena, rasa cemburu yang tidak diatasi dengan baik bisa berakibat buruk bagi perangai anak. Anak akan merasa tidak memiliki apa-apa yang membuat orang tuanya bangga. Lagi-lagi, orang memuji fisik atau kemahiran saudaranya dan membandingkan dengan dirinya yang biasa-biasa saja. Perlahan ia akan kehilangan rasa percaya dirinya. Ia ‘kan sedih, sebal dan tak jarang mengutuk dalam hati, “Kenapa sih aku ga mahir apa-apa, sedangkan saudaraku bisa ini-itu. Aku kan juga anak ibu dan ayah!” 
          Hancurlah hati anak. Ia merasa tidak punya kebaikan sama sekali. Ia merasa semua orang jahat. Semua orang bersepakat untuk memusuhi dirinya. Hari-harinya mungkin tidak tenang kecuali bila ia berpisah dengan saudaranya. Atau ia akan merasa puas bila saudaranya terlihat buruk di mata banyak orang. Maka terjadilah sesuatu yang tidak kita harapkan, na’udzubillah.
          Buku Serunya Dunia Anak Usia Dini karya tim admin grup Preschool Online, halaman 35 mengatakan, “Sibling rivalry  banyak terjadi pada anak-anak yang berjarak usia sangat dekat (1 atau 2 tahun), sama beradu pada pertengahan masa anak (8-12 tahun) dan berjenis kelamin sama. Akibatnya, jika tidak tertangani bisa berdampak sampai dewasa, bahkan sampai tua.”
          Lebih lanjut lagi buku tersebut menjelaskan bahwa, “Sibling rivalry  bukanlah kesalahan anak tertua maupun anak-anak dalam keluarga, juga bukan merupakan kesalahan orang tua. Akar permasalahannya adalah kurangnya waktu dan perhatian, akibat kondisi umum yang dimiliki oleh suatu keluarga.”
          Lalu, apa ya yang membuat anak merasa harus bersaing dengan saudaranya sendiri? Dan bagaimana cara mengatasi persaingan ini menjadi hal yang positif?

[rewrite from my writing in http://www.sarapankata.com/penyebab-sibling-rivalry]

Baca selanjutnya: Penyebab Sibling Rivalry