Setiap orang mungkin punya persiapan yang berbeda. Ini adalah versi saya.
1. Jangan menunggu tua
Pergilah ke sana selagi muda karena ibadah di sana
membutuhkan fisik yang kuat dan sehat. Saya bertemu dengan banyak sekali
oma-opa yang kesulitan. Ada yang telapak kaki kanannya harus diseret ketika
berjalan. Ada yang butuh waktu seperempat menit untuk menuruni satu anak
tangga. Ada yang kakinya bengkak hingga sandal selopnya hanya muat jemari saja,
dan masih buaanyak lagi--Masya Allah, barokalahu fihim, semoga
Allah melipat gandakan pahala amalan mereka.
2. Pilih
jadwal keberangkatan yang cocok dengan jadwal haid kita.
Haidh adalah takdir Allah bagi putri Adam. Ketika kita
berada di Mekah dan ternyata tamu bulanan datang, itu adalah bagian dari
ketentuan-Nya. Karena kita tidak bisa memilih kapan ‘tamu’ itu datang, ada
baiknya kita yang memilih jadwal keberangkatan. Carilah yang sesuai dengan
periode menstruasi kita. Paling aman, kita berangkat pasca menstrual period.
3. Punya
Paspor dan Buku Kuning (vaksin meningitis)
Akan dibahas pada sub bab berikutnya, insya Allah.
4. Bawa
pakaian secukupnya.
Sembilan hari safar, saya hanya membawa tiga setel
pakaian hijab dan dua pakaian tidur. Saya juga bawa sabun cuci sachet dan
hanger plastik untuk mencuci pakaian. Bisa kering gitu? Bisa, insya Allah!
Kalo gak mau nyuci, ya siap-siap bawa pakaian yang
banyak dan tambahan tentengan oleh-oleh saat pulang nanti. O iya, jangan lupa
bawa jaket bila di sana sedang musim dingin ya!
Akan ada pembahasan sendiri tentang packing koper, insya Allah.
Akan ada pembahasan sendiri tentang packing koper, insya Allah.
5. Cek kesehatan ke dokter atau bawa obat yang
diperlukan
Saat kita sedang beribadah di sana, semoga masalah
kesehatan tidak mengganggu kekhusyu'an kita baik itu batuk, flu, asma, sakit
gigi, maag dan lain-lain. Selain obat minum, saya juga sedia obat antiseptik,
plester, koyo dan krim untuk pegal-pegal hehe…
6.
Mempelajari tata cara umroh yang sesuai tuntunan Rasulullah.
Inilah sejatinya persiapan yang paling penting karena
sangat disayangkan bila kita sudah banyak mengeluarkan waktu, harta dan tenaga,
ternyata amalan kita tertolak karena tidak sesuai dengan yang Rasulullah
contohkan.
7. Membaca kembali sejarah Rasulullah
Selain kegiatan utama yaitu umroh di baitullah, beberapa
hari di dua kota harom tersebut kita akan berziyaroh ke banyak tempat
bersejarah. Agar bisa menyelami kisah yang diceritakan oleh muthowwif, ada
baiknya kita membaca kisah Rasulullah sebelumnya.
8.
Berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan sekaligus
menyelesaikan tanggungan bila ada
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ «
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi
meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa
daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin
menyia-nyiakan titipannya)”
[HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358]
Begitu juga bagi orang
yang ditinggalkan, sebaiknya mengucapkan.
أَسْتَوْدِعُ
اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
“Aku
menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah.”
[HR. Tirmidzi no. 3443]
Karena
sejatinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita dalam perjalanan
nanti. Mudah bagi Allah untuk menakdirkan kita tidak kembali sampai kampung
halaman lagi, na’udzubillah. Semoga safar kita Allah berkahi sampai kita
berkumpul lagi bersama keluarga, Aamiin.
Yang tidak ada tuntunanya adalah
“Walimatus Safar”. Sebuah acara yang umum diadakan oleh calon jamaah
haji/umroh. Mereka mengundang para tetangga untuk makan-makan dan berdoa
berjamaah.
9. Luruskan niat
Sesungguhnya Allah memilih kita
untuk datang ke rumah-Nya tidak lain karena anugrah Allah yang Maha Agung. Kita
mampu menunaikan ibadah ini karena Allah yang memudahkan segala urusan kita
bukan semata-mata karena kesuksesan kita.
Kita berdoa semoga Allah senantiasa
menjaga niat ibadah kita dan menjauhkan diri kita dari ujub dan riya. Aamiin
yaa Mujiibud du'aa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar