Senin, 26 Maret 2018

Persiapan sebelum Umroh

Setiap orang mungkin punya persiapan yang berbeda. Ini adalah versi saya.

1. Jangan menunggu tua

Pergilah ke sana selagi muda karena ibadah di sana membutuhkan fisik yang kuat dan sehat. Saya bertemu dengan banyak sekali oma-opa yang kesulitan. Ada yang telapak kaki kanannya harus diseret ketika berjalan. Ada yang butuh waktu seperempat menit untuk menuruni satu anak tangga. Ada yang kakinya bengkak hingga sandal selopnya hanya muat jemari saja, dan masih buaanyak lagi--Masya Allah, barokalahu fihim, semoga Allah melipat gandakan pahala amalan mereka.


2. Pilih jadwal keberangkatan yang cocok dengan jadwal haid kita.

Haidh adalah takdir Allah bagi putri Adam. Ketika kita berada di Mekah dan ternyata tamu bulanan datang, itu adalah bagian dari ketentuan-Nya. Karena kita tidak bisa memilih kapan ‘tamu’ itu datang, ada baiknya kita yang memilih jadwal keberangkatan. Carilah yang sesuai dengan periode menstruasi kita. Paling aman, kita berangkat pasca menstrual period.

3. Punya Paspor dan Buku Kuning (vaksin meningitis)

Akan dibahas pada sub bab berikutnya, insya Allah.


4. Bawa pakaian secukupnya.

Sembilan hari safar, saya hanya membawa tiga setel pakaian hijab dan dua pakaian tidur. Saya juga bawa sabun cuci sachet dan hanger plastik untuk mencuci pakaian. Bisa kering gitu? Bisa, insya Allah! Kalo gak mau nyuci, ya siap-siap bawa pakaian yang banyak dan tambahan tentengan oleh-oleh saat pulang nanti. O iya, jangan lupa bawa jaket bila di sana sedang musim dingin ya!

Akan ada pembahasan sendiri tentang packing koper, insya Allah.


 5. Cek kesehatan ke dokter atau bawa obat yang diperlukan

Saat kita sedang beribadah di sana, semoga masalah kesehatan tidak mengganggu kekhusyu'an kita baik itu batuk, flu, asma, sakit gigi, maag dan lain-lain. Selain obat minum, saya juga sedia obat antiseptik, plester, koyo dan krim untuk pegal-pegal hehe…


6. Mempelajari tata cara umroh yang sesuai tuntunan Rasulullah.

Inilah sejatinya persiapan yang paling penting karena sangat disayangkan bila kita sudah banyak mengeluarkan waktu, harta dan tenaga, ternyata amalan kita tertolak karena tidak sesuai dengan yang Rasulullah contohkan. 

7. Membaca kembali sejarah Rasulullah

Selain kegiatan utama yaitu umroh di baitullah, beberapa hari di dua kota harom tersebut kita akan berziyaroh ke banyak tempat bersejarah. Agar bisa menyelami kisah yang diceritakan oleh muthowwif, ada baiknya kita membaca kisah Rasulullah sebelumnya.


8. Berpamitan kepada keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan sekaligus menyelesaikan tanggungan bila ada

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ وَدَّعَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ »


          Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkanku dan beliau mengucapkan, “Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)” 
[HR. Ibnu Majah no. 2825 dan Ahmad 2: 358]


          Begitu juga bagi orang yang ditinggalkan, sebaiknya mengucapkan.

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan perbuatan terakhirmu kepada Allah.” 
[HR. Tirmidzi no. 3443]

          Karena sejatinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat kita dalam perjalanan nanti. Mudah bagi Allah untuk menakdirkan kita tidak kembali sampai kampung halaman lagi, na’udzubillah. Semoga safar kita Allah berkahi sampai kita berkumpul lagi bersama keluarga, Aamiin.

Yang tidak ada tuntunanya adalah “Walimatus Safar”. Sebuah acara yang umum diadakan oleh calon jamaah haji/umroh. Mereka mengundang para tetangga untuk makan-makan dan berdoa berjamaah.

9. Luruskan niat

Sesungguhnya Allah memilih kita untuk datang ke rumah-Nya tidak lain karena anugrah Allah yang Maha Agung. Kita mampu menunaikan ibadah ini karena Allah yang memudahkan segala urusan kita bukan semata-mata karena kesuksesan kita. 

Kita berdoa semoga Allah senantiasa menjaga niat ibadah kita dan menjauhkan diri kita dari ujub dan riya. Aamiin yaa Mujiibud du'aa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar