Menulis Adalah Mengukir Sejarah
Anda pernah dikirimi broadcast hoax? Kalau saya, sering. Biasanya saya akan mengkroscek kebenaran berita tersebut. Lalu saya berusaha menjelaskan faktanya kepada si pengirim. Tapi lama-lama saya jadi capek juga. Terkadang, hoax empat tahun lalu, masiiih saja ada yang ngeshare, please deh.
Apa sebenarnya motif si penulis hoax itu? Di sini lah poinnya. Ketika kegiatan menulis hanya diniatkan agar tulisan menjadi viral, mungkin itu lah yang akan penulis dapat. Tapi yakin deh, itu tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena tidak semua pembaca bisa dibodohi dan semua yang berbau dusta pasti akan tercium juga.
Lalu apa motif saya dalam menulis? Saya menulis karena lima alasan berikut.
1. Menulis itu dianjurkan dalam Islam
Bukan hanya membaca lho, menulis juga dianjurkan dalam Islam. Misalnya kita memengikuti sebuah pelatihan. Saat kita sedang menyimak nara sumber, tentu kita bisa menyerap ilmu tersebut dengan baik. Namun, bagaimana nasib ingatan kita satu bulan ke depan? atau satu tahun lagi? atau setelah bertahun-tahun? Masih ingat kah kita dengan apa yang disampaikan oleh pemateri dalam pelatihan tersebut?
Itulah sebabnya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menuliskan ilmu yang telah didapat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” [Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]
Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga berkata,
"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat!Termasuk kebodohan kalau kamu memburu kijang.Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja."[Diwan Syafi’I hal. 103]
Ini tidak hanya berlaku saat pelatihan saja, tapi juga saat belajar dengan guru di kelas, mendengarkan kajian di majlis ilmu, dan lain-lain. Bahkan saya pernah menamatkan membaca sebuah buku, lalu saya menuliskan isinya dengan bahasa saya sendiri.
Dengan menuliskan kembali ilmu yang telah kita dapat, ini membuktikan bahwa kita benar-benar faham apa yang telah kita baca atau dengar. Bonusnya, kita ‘mengikat’ ilmu tersebut di buku kita, yang sewaktu-waktu bisa kita buka dan pelajari kembali.
2. Menulis adalah obat lupa
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menuliskan segala hal yang bersifat penting. Seperti materi pelatihan, materi kajian, akad dalam bermuamalah, janji pada orang lain, termasuk janji pada diri sendiri juga patut kita tuliskan. Tulisan ini akan menjadi obat mujarab dikala kesibukan mengaburkan ingatan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam menafsirkan surah Al-Alaq,
“Lupa ada obatnya yaitu dengan menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan surah Al-Alaq. Yaitu “iqra’ (bacalah)” kemudian “’allama bil qolam’ (mengajarkan dengan perantara pena)”. Maksudnya, bacalah dengan hafalan. Jika tidak hafal, bacalah dengan tulisanmu.” [Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin]
3. Menulis adalah berbagi ilmu, pengalaman dan hikmah
Setiap kita memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Yang hobi memasak, bisa menuliskan step by step masakan favoritnya. Yang profesinya dokter bisa membantah hoax kesehatan yang beredar. Yang ahli parenting bisa menuliskan cara mengatasi anak tanrum. Yang jago menulis bisa berbagi tips menulis. Misalnya cara mengatasi writer’s block alias keadaan di mana penulis merasa buntu menuangkan idenya dalam bentuk tulisan.
Semua keahlian itu adalah ilmu yang berharga. Jika kita menuliskannya lalu tulisan kita dibaca oleh banyak orang, tentu manfaatnya akan lebih luas, bukan?
Selain ilmu, pengalaman hidup juga bisa dituliskan. Seperti teman saya yang menuliskan pengalamannya, memberi hadiah untuk wali kelas putrinya. Ternyata di balik niatnya yang tulus itu, ada seseorang yang mengingatkan. Bahwa memberi hadiah sebaiknya bukan hanya untuk wali kelas saja, tapi juga untuk semua guru atau tidak sama sekali. Ini untuk menghindari rasa iri antar guru dan kecenderungan berpihak pada putri teman saya tersebut. Sebaiknya pula, hadiah diberikan saat kelulusan sekolah bukan di tengah semester agar kesannya tidak seperti gratifikasi.
Kisah di atas adalah contoh pengalaman berharga yang bisa memberi tambahan wawasan kepada pembacanya. Bahwa melakukan kebaikan tidak cukup dengan niat baik saja. Kita juga perlu memperhitungkan caranya. Jika teman saya menyimpan kisahnya sendiri, ini akan bermanfaat untuk dirinya saja. Tapi teman saya berbagi dengan tulisannya. Ada hikmah di sana yang bisa dipetik bersama.
4. Menulis itu menabung pahala
Jika dengan membaca tulisan kita, banyak orang terinspirasi, tercerahkan bahkan terpecahkan masalahnya. Sesungguhnya Allah Maha Adil perhitungannya. Allah tentu akan menetapkan ganjaran pahala bagi penulisnya. Tentunya jika niat sang penulis benar-benar ikhlas dan ingin berbagi manfaat. Bukan karena ingin tenar atau berharap tulisannya viral.
Bahkan di saat kita telah tiada, namun tulisan kita masih bisa dibaca, pahala itu akan tetap mengalir, menjadi jariyah bagi penulisnya, insya Allah.
5. Menulis adalah mengukir sejarah
Terkadang saya juga suka menulis kejadian sehari-hari yang lucu, menyenangkan, menyedihkan, atau mendebarkan. Misalnya menuliskan pengalaman melahirkan, repotnya saat anak-anak bergiliran sakit, pengalaman pertama mengantar buah hati ke sekolah, hingga mencurahkan rasa hati ketika si ‘bocah’ tahu-tahu minta menikah (yang terakhir ini belum sie hihi, duh gimana rasanya ya?).
Tiap penggal cerita itu tentu membawa kesan tersendiri di hati saya. Saya tidak ingin melepasnya begitu saja. Saya ingin mengukirnya dengan ‘pena’.
Bagi saya, menulis bagaikan mengukir sejarah. Jika nanti, usia tak lagi muda, saya bisa bernostalgia. Saya bisa membaca kembali kisah hidup saya bersama suami, anak dan cucu saya. Bahkan setelah saya tiada, insya Allah kisah saya akan tetap abadi, kecuali hari kiamat menghampiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar